Kecewa dengan Dunia Kepenulisan (Part 1)

Kenapa saya sempat vakum di dunia blogging? Nah, salah satunya ada masalah dengan yang namanya dunia kepenulisan juga. Iya sih, kalau ada masalah sama video kan nggak cocok. Itu namanya nge-vlog jadinya bukan nge-blog.

Tulisan ini akan panjang, jadi saya bagi menjadi tiga bagian (atau bahkan lebih kalau unek-uneknya belum berakhir). Oke, saya mulai dari masalah dunia kepenulisan fiksi. Kenapa nih Mama Indri sampe kecewa?

Pertama, jujur saja kecewa dengan grup kepenulisan di medsos ya. Apa sih maunya kok sampai gabung? Tentu kita menginginkan benefit seperti :

  • Dapet temen banyaaaak
  • Tulisan kita di platform menulis online dibaca sama anggota lainnya
  • Bisa dapat koreksian gratis…! (jangan salah kalau pakai jasa editor pasti berbiaya)
  • Dan banyak benefit lainnya termasuk bisa dapet ide menulis dari sana

Tetapi yang saya dapatkan berbeda jauh. Bahkan saya sempat tersinggung sama salah satu grup kepenulisan yang mengatasnamakan salah satu platform menulis online ya region dimana saya tinggal. Mereka mengolok saya karena nggak tahu apa itu TTL. Nah, hayo lho TTL kalau bagi orang normal dan biasa mawon eh biasa saya itu ya Tempat Tanggal Lahir. Tapi karena mereka yang ternyata kebanyakan penulis fanfic dan pecinta korea, artinya jadi beda. Maaf lupa apa bahkan ketawa keras meski memakai teks dan kasih stiker.

Saya sih, nggak ngerasa karena udah tua (lah masih 30 tahun kok tua sih?) terus mereka berasa kurang ajar. BIG NO! Hei! Tidak semua penulis adalah orang yang tergila-gila sama drakor dan entah apa isi didalamnya. Jadi, tolong kasih tahu atau kalau perlu ubah namanya jangan grup menulis region Jateng misalnya. Kasih lebih spesifik khusus fanfic. Pasti saya mundur duluan, saya masuk kan karena merasa eh ini per region loh. Siapa tahu kan nambah pertemanan?

Saya direndahkan jujur saja ya. Bagi kalian pelakunya yang sadar dan baca ya mau meledek saya lagi boleh. Kalau perlu datang dan ketawa didepan rumah, saya persilahkan! Paling dianggap orang gak waras sama tetangga saya.

Kedua, Ini masalah koreksian. Sebenarnya saya orang yang selalu penasaran, kepo dan maunya belajar terus. Tapi juga takut untuk mempraktekkan. Memang butuh arena dan support dari orang lain agar saya mau mencoba. Saling memberikan koreksi itu oke, Cuma yang saya nggak terima memaksakan koreksian tersebut.

Begini loh…tidak semua orang mau dipaksa dengan koreksian. Memang harus pelan-pelan, kecuali orangnya nggak mau belajar sama sekali. Berarti apa yang dia tulis menurut dia udah bagus. Sementara seorang penulis terkenal dan hebat saja masih kena koreksian dari editornya sebelum naik jadi sebuah buku yang diterbitkan.

Saya lebih suka orang yang kasih saran, ini lebih halus. Kecuali si penulis siap menerima krisar atau kritik dan saran. Jangan main tembak gak ada angin gak ada hujan tau-tau kasih koreksi harusnya ini itu titik koma perhatikan ayo perhatikan PUEBI dan blah blah (sengaja ngetiknya gini biar gemes matanya yang pengen koreksi).

HOI! Tulisan di blog ini juga sama kacaunya. Tapi satu hal, saya akui meski sudah aktif belajar menulis fiksi sejak SMA, saya nggak berani mengkoreksi orang lain malah takut iya. Kecuali orangnya minta. Saya ingetin nih ya, KECUALI ORANGNYA MINTA.

Lah…saya siapa? Benar saya suka menulis. Tetapi saya sadar kapasitas saya hanya seorang penulis dan ibu rumah tangga. Kecuali saya guru Bahasa Indonesia, saya ada di sebuah forum kepenulisan, saya diminta memberikan kritik dan saran. Baru saya lakukan. Sekalinya kritik dan saran untuk sebuah karya fiksi ya, saya memposisikan diri sebagai pembaca. Mau ada kesalahan setitik saja selama cerita enak dibaca, buat penasaran, ceritanya seru ya nggak ada masalah.

Ketiga, Senioritas ini yang buat saya gemes nggak karuan. Saya nggak ngerti ya! Seorang penulis dikatakan senior ketika sudah menulis berapa karya sih? Ada kok yang sudah buat 30 buku dan diterbitkan sama penerbit besar. Itu masih biasa saja bahkan enak diajak ngobrol (pengalaman temen saya ketemu yang penulis seperti ini). Kok yang baru diterbitkan sama penerbit kecil, lebih dari 30 judul buku, sudah mengatasnamakan senior? Nanti saya tanya ke orang lain yang bukan penulis :

“Eh, tau si A nggak? Katanya dia penulis terkenal. Bukunya udah banyak.”

“Nggak tahu tuh! Siapa sih?”

Nah lho! Kalau sudah begitu bagaimana tuh? Mau disalahkan tanya sama orang yang nggak suka baca? Yo ndak bisa gitu! Kalau memang sudah banyak menulis buku kan bukan berarti jadi sok-sokan. Sok senior dan sok terkenal gitu.

Saya juga menemukan ini banyaaaak di grup-grup kepenulisan. Tapi pada akhirnya kan tenggelam dengan sendirinya. Maaf ya jangan tanya saya siapa disana kok sok banget nulis disini. Saya silent reader yang selalu mengamati udah gitu aja!

Saya menulis ini karena rasa kecewa dan kasihan. Bagaimana dengan penulis baru yang memang baru bener terjun sebagai penulis? Ceritanya bagus tinggal dipoles dikit eh ketemu yang senior ditendang, dijelekkin, dibilang cerita nggak mutu, dia mau tanya dianggap nggak mecoba mencari sendiri. Lah karena anda senior jawab dong pertanyaan junior seputar dunia kepenulisan. Kecuali pertanyaan ini berulang padahal udah ada yang jawab baru boleh marah.

Oke, deh sekian untuk tulisan seri ini ya. Nantikan seri berikutnya!

Tips Jual Baju Bekas ke Penjual Baju

Ilustrasi Baju Bekas

Saya akibat ‘kepepet’nggak ada duit dan akhirnya sukses menjadi penjual. Jualin apa saja yang ada di rumah dan nggak terpakai. Asal jangan jual harga diri. Haduh… jangan ya plis jangan!

Banyak baju bekas belum barang bekas lainnya yang nggak terpakai. Beberapa ada yang bisa dibakar. Tapi kalau elektronik, baju yang masih layak pakai, atau benda lainnya yang bisa banget dijadiin duit kenapa nggak dijual? Kalau elektronik masih bisa ke Tukang Rosok Online. Nah, kalau baju?

Penasaran juga mengingat ada yang menawarkan diri untuk menerima baju-baju bekas dan siap membeli. Tentu ini buat orang tergiur ya. Apalagi kalau yang punya baju bayi kan mau ngapain? Maaf sih…dikasih ke orang saja terkadang milih dan malah balik meledek kalau pas bener menurut mereka nggak bagus.

Dasar! Orang sekarang emang pada sombong! Kenyataan sih, makanya kalau mau kasih lihat dulu orangnya seperti apa. Lalu pastikan mau nggak menerima? Jangan sampai udah menerima dih barangnya jelek dan hasilnya didoain yang jelek. Kan berabe…!

Nah, kembali ke orang yang mau beli baju bekas. Sebenernya buat apa sih? Rupanya itu dijual kembali loh! Iya, biasanya mereka ambil dari baju-baju orang kota yang bekas untuk nantinya dijual kembali ke daerah pedesaan. Kalau sudah tahu begini maka perhatikan tips ini biar baju bekas kita jadi duit :

1.Memang baju kita dulunya branded

Iya, baju begini kan dari kualitas bakalan awet ya. Warnanya juga nggak mudah pudar meski dicuci berkali-kali. Kalau memang ada dan tidak terpakai ya sudah. Mereka para pencari baju bekas akan mencari baju branded. Tapi kalau yang KaWe ya jangan ditanya dong!

2. Masih layak pakai

Lucu sih siapa yang mau pakai baju bagian keteknya bolong. Hii…nanti bulketeknya nyembul keluar hahaha…. Jadi, perhatikan adakah bagian yang cacat atau bolong? Termasuk yang kotor dekil meski udah dicuci dan noda membandel ya tetap mereka nggak mau.

3. Masih Modis dan bukan model kuno

Ini yang sulit. Memang baju modis rata-rata masih muat dipake ya! Mereka nggak akan mau apalagi yang jadul. Daripada ngamuk sama penjualnya lebih baik tahu ini dulu. Kalau perlu lewat Whatsapp kirim saja foto-foto baju yang mau kita jual. Agar tidak ada yang dirugikan disini. Sebab para penjual itu rela lho datang ke rumah kita buat beli baju bekas kita. Udah abis bensin duluan kita enak tungguin mereka datang.

4. Sistem beli per karung

Sekali lagi! Jangan ngamuk dulu! Mereka cara bayarnya per karung dan harga nggak sebanding sama kita beli dulu. Ya iyalah…ini kan baju bekas. Saya pernah berhasil menjual dan cuma dapat 30 ribu per satu karung. Padahal bajunya saya beli harga ratusan ribu. Kalau soal harga kembali pada kesepakatan ya! Kita bisa nego dulu sampai jadi. Kalau saya sih yang penting bajunya udah nggak dirumah lagi dan jadi duit. Udah penuh rumah ini…!

Itu tadi ya tips jualan baju bekas ke penjual baju. Kalau dirasa kesel sama mereka yaudah jualin aja sendiri. Boleh juga sumbangin ke orang yang lagi butuh. Sebab jualan baju bekas ke penjual baju itu tergantung keberuntungan. Kadang ada saja alasan mereka buat menolak. Entah baju kekecilan, nggak modis, kuno, nggak layak karena banyak bulu lah, seribu satu alasan.

Jadi, saya ingatkan! Hanya bagi orang yang kuat boleh coba jualin baju bekas ke penjual baju. Orang emosian minggir! Nggak ada ceritanya kita dulu beli baju satu juta eh dijualnya lagi jadi lima ratus ribuan. Kecuali kita jual sendiri sih nggak masalah.

Sampai jumpa di tulisan Mama Indri yang berikutnya ya!

Bikin Kezel : Penjual Kasur Absurd

Saya sejujurnya masih bingung sih sama model yang satu ini. Tapi okelah kita bahas saja di tulisan Mama Indri kali ini.

“Permisi…! Permisi…!”

Saya yang baru saja mencuci piring langsung tergopoh-gopoh berjalan menuju ke pintu ruang tamu. Nampak seorang laki-laki berdiri di luar pagar. Dia sebenarnya meminta saya untuk mendatanginya. Tapi saya ogah dan mikir :

“Eh. Siapa elu enak aje!”

Saya desak apa sih keperluannya. Kan dari pintu juga bisa kalau sekedar mau ngomong. Kalau orang di lingkungan saya sih udah paham. Paling mau kasih tahu kalau ada undangan pengajian. Iya, undangannya lewat mulut alias didatangi tidak pakai kertas.

Atau…bagian Humas RT yang nagih bareng bendahara buat social kematian, ibu-ibu PKK yang nagih buat iuran yang melahirkan, saya sih nggak masalah. Meski iya saya rasakan pengeluaran makin gede. Kalau urusannya sama RT nggak dikasih ya salah. Padahal udah mepet bener itu duit atau bahkan pernah duit bersih bener nggak ada sama sekali.

Tapi mengingat bentuk rumah yang lumayan gede, dari tanah dua kapling. Orang akan mengira saya sekeluarga orang kaya (di Aamiin-kan dong…! Biar jadi kaya beneran). Padahal anak-anak minta jajan tahu bulat aja kadang nggak saya kasih duit. Ya gimana, memang nggak ada. Namun persepsi kami orang kaya melekat ke orang-orang yang lewat. Termasuk ke laki-laki yang satu ini.

Saya bingung sih, orang ini awalnya bilang mau antar kasur ke rumah Pak siapa entah yang punya kos-kosan. Duuh…secara yang punya kos disini banyak euy! Saya juga nggak hapal karena si empunya rumah biasanya tinggal di daerah lain. Jadi, Cuma kosan aja.

Ya, udah ante raja sono kasurnya. Rebes eh beres kan? Tapi belibet duh entah ngomong apa? Lah saya sampai ngetik ini juga nggak paham. SUMPAH! Karena saya udah pening mikir besok belanja apa ye kan, akhirnya saya nanya dengan nada kesel aja.

“Sebenernya ini apa sih? Nitip Kasur? Udah penuh di rumah saya.”

“Bukan nitip kasur, Ma. Duh…”

“Ya terus apa?”

“Ini lho mumpung lagi murah. Sekalian lewat sini.”

“Oh jualan kasur? Nggak deh! Udah banyak kasur di rumah.”

Belum aja kenal udah panggil ‘Ma’ segala. Gundulmu! Memangnya aku Mamamu apa? Sori ye! Ogah pula! Saya memang risih dipanggil ‘Mama’ apalagi sama orang jualan. Biar anak-anak saja yang panggil saya begitu.

Pada Akhirnya…

Ya, setelah penawaran absurd yang ternyata berujung jualan kasur ituu…eh dia nawarin yang lain. Manggil orang entah disuruh beli kasurnya.

Begini, untuk kasur sebenernya udah banyak jenis penipuan ya! Bilang harganya murah ya memang sih. Pokoknya harga nggak wajar tapi ya buat apa. Kalo dibawah seratus ribu nggak sih. Tapi penipuan disini dia bilang busa padahal isinya kain-kain bekas loh! Hii…jijiklah entah itu kain bekas apa.

Kita berhak menolak yang semacam ini sih daripada kita bisanya marah di medsos kan? Nggak ada yang maksain untuk beli barang absurd dari penjual yang absurd juga. Mau beli kasur? Datangi toko atau agennya saja yang sudah jelas dan nggak akan ketipu lagi sama isinya. Kita senang, penjual juga senang dan transaksinya jadi barokah.

Betol apa betol ibu ibuuu…!

Sampai jumpa di tulisan Mama Indri berikutnya ya!

Bikin Kezel : Para Penjual Kalender Berkedok Minta Uang

Saya membuat satu tulisan khusus yang nantinya akan bahas seputar apa saja yang bikin kesel ibu rumah tangga. Selain tulisan tentang pertukangkayuan tentunya.

Memang sebagai ibu rumah tangga yang sehari-hari udah WFH (ya bener kan mosok WFO), belum seteres kena anak-anak yang sekolahnya juga ‘Dirumah Aja’, penghasilan suami yang mulai menurun karena PPKM yang terus ada dan tak kunjung henti jua (duh bahasa apa ini ya!).

Emosi nggak terkendalikan, mana mau masak…eh ikan udah digondol sama kucing aja. Kok kayaknya kesialan saya kuadrat gini ya? Tapi akan lebih mengesalkan lagi saat suami nggak ada di rumah eeh yang datang ada saja. Kalau yang datang kasih duit sih saya hepi, kalau yang datang minta duit?

Sekelas pengamen? Masih deh dikasih berapa aja diterima. Tapi kalau yang datang absurd? Nah, untuk itulah saya buat tulisannya. Supaya ibu rumah tangga maupun bapak rumah tangga lainnya bisa lebih waspada sama yang model beginian. Ujung-ujungnya duit, tapi cara mintanya bikin geleng kepala pundak lutut kaki…lah malah nyanyi.

Seorang ibu-ibu berpakaian ala ibu-ibu pengajian di desa. Bawa tas dan isinya nggak lain dan nggak bukan adalah kalender juga buku catatan dan surat yang isinya seolah dibuat resmi. Terkadang pelakunya mas-mas pakai sarung dari pesantren mana.

Dengan sopan bahkan pakai Bahasa Jawa halus yang intinya adalah ‘jualan kalender’ mana ini belum desember 2021 dia sudah menawarkan kalender 2022. Kalau yang datang satu saja dan nggak ada lagi ya sudahlah. Ini datang berasa di gruduk loh! Mereka satu rombongan yang jalannya nyebar, datangin rumah yang dirasa mampu beli kalender.

Harganya dua puluh ribu rupiah. Bukan nominal yang besar dan juga kecil. Harga segitu masuk deh buat siapa saja. Lah…tapi nggak mungkin dong tiap ada orang datang kalendernya dibeli? Bisa jadi rumah penuh sama tempelan kalender. Kan jadi nggak aestetik gitu (halah ini lagi apaan sih?).

Belum lagi memakai Bahasa Jawa halus. Duh, plis…disini orang Sumatera semua kecuali saya loh! Tapi saya juga nggak faseh pakai Bahasa Jawa halus. Makanya saya lebih suka pakai Bahasa Jawa pasaran atau biar sopan pakai Bahasa Indonesia. Apalagi saya kalau ngomong campur, terkadang logat Medan kebawa gara-gara pernah memerankan lakon mamak medan di sebuah drama audio (kapan-kapan saya tulis deh pengalaman itu) yang harus logat banget.

Walhasil kepala saya pening dong! Ini orang ngomong apa sih? Terkadang di telinga saya terdengar kayak dengungan (serius gak boong!). Hanya beberapa orang saja yang ngomong Bahasa Jawa halus tapi saya masih paham dan sedikit bisa membalas.

Kalau ditolak?

Oke, ini mungkin jadi pertanyaan yang sudah terbesit dibenak bapak dan ibu rumah tangga. Udah lagi susah pemasukan eh ketemu yang beginian! Sebenarnya nggak masalah sih. Tapi akan berlanjut dialognya seperti ini :

“Sampun sak ikhlas e mawon, kagem adek-adek panti asuhan / pengembangan pesantren.”

Artinya kurang lebih : Sudah seikhlasnya aja dikasih buat adik-adik panti asuhan/ pengembangan pesantren (kalau ini yang datang dari pesantren).

Saya nggak menyudutkan lembaga pendidikan pesantren ya. Tetapi saya lebih curiga kalau ini hanya kedok mengatasnamakan pesantren. Sori loh ya, semestinya lembaga pendidikan itu sudah ada yang menaggung biaya baik dari ortu yang memasukkan anaknya ke pesantren atau donatur tetap. Kok iya sih tega nyuruh santrinya jualan kalender kalaupun iya nih.

Sama juga kalau ini dari panti asuhan. Loh, jangan salah! Saya dulu pernah kenal sama bapak pemilik panti asuhan. Beliau itu pernah cerita soal donatur banyak. Donatur tetap pun ada! Selain itu, bapaknya sendiri juga punya usaha entah sawah, toko atau apa kek. Hasil dari penjualan atau panen sawah digunakan untuk membiayai sekolah maupun keseharian anak asuhnya disana. Itu belum termasuk program pemerintah juga ada. Saya pernah dengar dari bapak itu juga selama panti asuhan sudah resmi terdaftar maka bisa diajukan untuk dapat bantuan dari kementrian apa gitu (maaf saya lupa ceritanya udah lama).

Kesimpulannya sih…

Terlepas dari tulisan saya diatas ya. Kalendernya mau dibeli silahkan, nggak juga boleh. Kasih duitnya kalo nggak beli kalendernya ya boleh, nggak ada duit ya mau kasih apa? Kalau saya tetap menolaknya secara halus. Nggak usah sampe lempar kursi apalagi lempar lemper (eh kalau ini sih saya mau). Kecuali udah kebangetan sih, silahkan lakukan yang anda suka. Tapi jangan bawa-bawa blognya Mama Indri sebagai refrensi anda untuk perbuatan suka-suka itu.

Oke, sampai jumpa di tulisan Mama Indri berikutnya ya!

5 Hal yang Harus Diperhatikan oleh Konsumen Mebel

Mama Indri selaku istri dari seorang tukang kayu sudah cukup miris mendengar keluhan dari beberapa orang yang merasa atau bahkan benar-benar “ditipu” oleh seorang tukang kayu. Bahkan Mama Indri pernah kena semprot gegara masalah pekerjaan salah satu konsumen kok nggak segera dikerjakan eh malah mengerjakan pekerjaan yang lain.

“Loh! Kok bisa?!”

Nah, ini dia nih. Kami berdua yang sangat hati-hati dalam mengerjakan setiap project yang ada saja masih bisa disemprot. Bagaimana yang kerjanya ngaco bin sembrawut dan amburadul? Apa mau dituntut ke jalur hukum tuh karena dianggap sudah menipu konsumen?

“Konsumen adalah RAJA.”

Yes! Betul sekali! Tetapi Raja akan nampak bodoh kalau langsung main ba bi bu tanpa adanya aturan. Kesalahan bisa terjadi pada siapa saja. Bisa pada tukang kayunya dan bisa juga pada konsumennya. Untuk itu, Mama Indri bagikan tips buat kalian yang first time alias pertama kali banget nget mau pakai jasa tukang kayu.

Gambar hanya ilustrasi saja

1. Cari Informasi Tentang Harga

Google adalah sarana paling mudah dalam mencari informasi yang kita butuhkan. Belum lagi ada Youtube kan? Nah, manfaatkan keduanya. Kita bisa cari misal dengan kata kunci “berapa biaya servis jok sofa?” Maka akan keluar banyak hasilnya tinggal kita pilih mana yang relevan.

Cara ini terbilang ampuh daripada kita harus satu-satu datengin tukang kayunya. Ya bisa sih kalau mau berpanas dan bercapek-capek ria. Harga yang sudah kita ketahui dulu akan membuat kita bisa menghindar dari permainan harga yang dibuat oleh tukang kayu.

Tapi juga kalau sudah tahu harga terus jangan main hantam pake acara minta potongan harga yaa….

2. Lihat Barang Apa yang Mau Dipesan

Apakah ini remake alias servis?
Atau apakah ini buat baru?

Beberapa tukang kayu ada yang memiliki spesialisasi tertentu. Misal hanya bisa buat pintu, kursi, jendela ya jangan paksa suruh buat lemari. Nanti bentuk lemarinya aneh! Kalaupun bagus paling dia lempar ke temennya yang lain sesama tukang kayu spesialis bikin lemari. Lalu kita kena harga dua kali lipat. Kecuali tukang kayu yang bisa all in one ya nggak masalah.

Ingat! Remake dengan buat baru beda jauh. Ada tukang kayu yang pandai membuat remake jadi nampak baru. Ada juga yang nggak bisa alias bisanya buat baru. Ini tanya yang detail ya atau kalau ragu berikan project kecil dulu untuk tes hasilnya. Kalau oke, silahkan lanjut ke project besar.

3. Tentukan Sendiri Berapa Lama Barang Kita Harus Jadi

Setiap konsumen punya batas waktunya masing-masing. Batas paling simpel misalnya, seminggu sebelum lebaran harus sudah jadi. Ini juga harus ditanyakan ke tukang kayunya ya. Sanggup atau tidak?

Beberapa tukang kayu ada yang main terima orderan tanpa melihat batas kemampuan. Ini yang bikin pesanan kita berasa nggak dikerjakan. Bisa juga kita lihat apakah si tukang kayu punya asisten yang bisa membantunya? atau asistennya ya istrinya sendiri hehe seperti saya. Ini juga bisa jadi patokan apakah estimasi waktu yang diberikan oleh tukang kayunya wajar apa nggak?

Ada kok kejadian dimana asistennya banyak bisa sampai 3 orang. Tapi kok kerjaan nggak kelar ya! Oh, ini tidak banyak yang tahu ya. Kerjaan asisten itu sebenarnya hal yang ringan misal memberikan lem ke bagian tertentu, memotong oscar untuk jok kursi, dll. Intinya pekerjaan yang diminta oleh si tukang kayu. Yaa otak pelakunya eeh utamanya ada di tukang kayunya. Kecuali di satu mebel itu ada dua tukang kayu nah baru bisa cepat. Wuzzzzz…!

4. Lihat Apakah Ada Orderan Milik Orang Lain atau Tidak

Ini sih kalau bisa dilakukan secara rahasia. Cukup dilihat area mebelnya atau ajak tukang kayunya ngobrol yang arahnya ke “apakah ada orderan orang lain selain punya saya atau tidak.” Kok gini amat ya!

Kalau kita mau cepet dan nggak mau kecewa ya cara ini bisa kita lakukan. Tukangnya lagi banyak orderan bahkan lagi ngerjakan project orang lain nggak mungkin juga kita bilang “pak, bisa nggak kerjakan punya saya dulu. Kalau bisa besok jadi.” Yaah…emang cetak foto berasa sejam jadi?

Daripada kita kayak detektif tanya detail ke tukang kayunya, udah gitu pengen cepet. Kenapa nggak kita cari tukang kayu lainnya? Kan yang sepi siapa tahu bisa lebih cepat. Tapi ingat yaa… jangan lupa lakukan point no 5.

5. Cek Kualitas Tukang Kayunya

Tanya ke saudara, temen, ortu siapa aja deh di tempat ini mana yang paling recommended tukang kayunya. Memang kalau tanya ke banyak orang bakalan pusing sebab mereka punya tukang kayu andalan masing-masing. Tapi cobalah tanya ke satu orang lalu datangi dimana tempatnya. Perhatikan sekitar mebelnya apakah?

“Ada beberapa orderan dan tukangnya sibuk bener?”
“Sepi cuma sisa serutan kayu atau beberapa tumpuk kayu dan tukangnya lagi ngopi?”
“Cuma ada satu orderan dan tukangnya lagi kerja?”

Selain itu jangan lupa untuk tanya beberapa hal ke tukang kayunya. Termasuk soal kesanggupan dalam mengerjakan satu project dan estimasi biayanya.

Saran saya, jika butuh cepat maka pilihlah tukang kayu dengan satu orderan dan dia lagi kerja. Ini tandanya dia bisa lebih cepat buat mengerjakan pesanan kita. Daripada yang udah satu kerjaan eeh tukangnya santai doang. Kecuali pas dia lagi istirahat. Tapi pilih saat tukangnya sibuk banyak orderan dan lagi mengerjakan orderan lainnya ya nggak masalah.

Sangat saya sarankan juga untuk kalian yang baru pertama kali pakai jasa tukang kayu, jika masih ragu maka datangi. Ya, tidak harus setiap hari nanti dikira kita ngefans sama tukangnya. Misal seminggu dua kali sudah cukup untuk project yang bersifat lama.

Oke, cukup sekian ya! Tunggu tulisan Mama Indri tentang pertukang kayuan lainnya.

Donat Ultah Indri

Indri adalah anak tiri bontot saya.
Itulah kenapa nama saya di blog adalah Mama Indri. Sekaligus nama panggilan di antara tetangga pas di Bengkulu. Karena disana tidak terbiasa dengan panggilan Bu (nama suami) tetapi biasa dengan sebutan Mak (nama anaknya) atau Mama (nama anaknya).


Memang kalau ayahnya lebih dikenal dengan panggilan Bak Fath atau Ayah Fath. Karena Fath anak tiri pertama saya yang dulu suka main. Entah kenapa semakin kesini dia lebih suka di kamar dan lebih banyak Indri yang main sama anak tetangga lainnya. Jadinya saat ayahnya nikah sama saya tahunya tetangga saya ya Mama Indri.


“Jadi ceritanya Indri ultah tepat tanggal 14 april kemarin.”


Cuma satu masalahnya. Baik saya maupun ayahnya lagi bokek. Beneran bokek dan kebetulan masih ada satu kerjaan di rumah pelanggan. Harapan kita berdua cuma satu : Dapat Duit dan Bisa Belikan Indri Kejutan Untuk Ulang Tahunnya.


Indri suka makanan yang manis. Berbeda jauh dengan Orang Sumatera biasanya yang suka pedas maupun kedua kakaknya. Memang tantangan buat kita berdua sebab harga kue tart terlalu mahal. Kue Bolu dia tidak terlalu suka tapi suka sama donat yang ada coklatnya.


“Butuh perjuangan kan buat dapetin duit.”


Saya ikutan bantu suami pas di rumah pelanggan. Lumayan bisa langsung bayaran dan segera kita cari toko kue yang jual donat juga. Saya ingat memang ada toko khusus jual donat yang pakai glazing dengan toping menarik. Harga satu dusnya sih 20 ribu dapat 6 biji. Tapi ayahnya pingin biar donatnya bisa ada tulisan “Selamat Ulang Tahun”.


“Akhirnya sampai di toko yang dituju. Eh, tapi kok donatnya polosan semua?”


Pelayannya langsung mendatangi saya yang kebingungan. Dia menawarkan mau donat dengan glazing varian apa? Phew!! Ada belasan varian seperti : Coklat, Taro, Vanilla, Strawberry, Blueberry, Tiramisu, dan lainnya saya nggak hapal. Saya juga menanyakan bisa request tulisan nggak?


“Bisa, tapi tambah 3 ribu.”


Wah, oke deh! Nggak masalah kalau cuma nambah 3 ribu perak. Jujur ini donat dengan request yang harganya murah amir. Pelayan toko meminta saya menunggu sebentar dan dia mulai berkreasi dengan rasa glazing yang sudah dipesan. Hasilnya? Memuaskan kok menurut saya. Nggak lebay dan cute desainnya. Pas banget buat anak cewek.


Saya kurang tahu ya kalau di kota lain ada apa nggak. Jelasnya di Semarang namanya D’fresco. Donatnya lembut dan standar jadi enak dimakannya.

Remake Mebel Tak Semudah Membalikkan Tangan

Nah, kali ini Meubel Bintang Furnitama dapat pelanggan baru. Dia minta remake mebel lama punya neneknya dulu. Menurutnya perabot mebel yang ada masih bisa dipakai. Hanya nampak kotor dan kuno saja.


“Bukan hal baru buat kami untuk remake mebel tapi asli ini parah.”


Setidaknya harus mau membersihkan, menyingkirkan benda yang ada disana, baru mulai proses remake-nya. Itulah yang saya lakukan bareng suami. Ini jenis buffet yang saya cuci dulu sampai bersih. Baru setelahnya melalui proses cat dan melamik.


Oh ya, tidak semuanya dicuci. Kalau kursi tamu tentu saja tidak. Hanya perlu ganti karet bagian bawahnya, tambah busa supaya lebih empuk saat diduduki, dan tentunya ganti kain joknya. Untuk pegangan kursinya, kebetulan si pemiliknya request warna biar nampak segar. Salak Brown jadi pilihan untuk melengkapi warna kursi tamu. Hasilnya cek nanti di bagian akhir postingan ya.


“Memang nggak mudah apalagi ini kursi kuno.”


Tentu si pemilik ingin warna yang fresh dilihat mata. Antiknya masih dapat tapi tidak kusam warnanya. Melamik punya peran penting di remake kali ini untuk mengkilapkan hasil akhirnya.


“Hal yang paling rumit tentu saja menghilangkan HPL-nya.”


Kalau belum tahu HPL itu apa ya itu sejenis tempelan yang direkatkan ke mebel. Biasanya memang digunakan untuk menutupi sebagian atau seluruh bagian mebel. Sekilas menipu sebab motif HPL luar biasa mirip kayu atau motif lainnya pun ada. Seolah itu di cat padahal hanya tempelan. Memang praktis tapi akan nampak kalau sudah bertahun-tahun. HPL akan mengelupas karena lemnya sudah tidak rekat lagi. Mebel jadi jelek bahkan nampak kalau sebenarnya tidak utuh 100% kayu. Melainkan ada bahan lain seperti bubur kayu yang dipadatkan, triplek atau plywood, atau bahan recycle lainnya dari kayu.


Mau ikutan remake mebel kuno juga?
Langsung datang ke :
Meubel Bintang Furnitama
Jl. Plamongansari V RT 01 RW 09 Kelurahan Plamongansari Kecamatan Pedurungan Kota Semarang, Jawa Tengah.


Ini dia hasil dari remake ala Meubel Bintang Furnitama :

Hidup Butuh Skill Bukan Ranking

Kesalahan yang banyak diterapkan hingga akhirnya kita lupa bahwa hidup itu butuh skill bukan ranking. Nah, termasuk kesalahan saya juga nih.

“Memang dari orang tua didikannya untuk terus mengejar ranking di kelas semasa sekolah.”

Nggak salah sih… ini bagus juga! Tetapi jangka panjangnya harus kita pikirkan. Apakah dengan belajar tekun terus kita mau jadi seorang guru? Jadi dosen? atau tenaga pengajar lainnya termasuk jadi Ilmuwan wah ini nggak masalah.

“Tapi kalau nggak bisa berbuahahahayaaa…!”

Saya pernah mendengar satu cerita dari dosen saya yang saat itu pernah naik satu becak di Kota Semarang. Tukang becaknya ternyata adalah lulusan sarjana. Soal nilai duh jangan ditanya deh. Tapi kemanapun melamar pekerjaan jadi guru, dia selalu ditolak. Malu sama keluarga di kampung dan akhirnya dia jadi tukang becak di Kota Semarang. Apa penyebabnya?

“Dia boleh jadi sarjana, pinter, tapi skill untuk jadi guru nggak ada.”

Memang apa sih skill buat jadi guru?

  1. PeDe (Wajib dong gak ada guru pemalu apalagi sampe tangan gemeter pas lagi ngajar kecuali tremor)
  2. Menguasai materi pelajaran yang dikuasainya.
  3. Mau belajar pengetahuan terbaru
  4. Bisa memahami bagaimana setiap murid di kelas yang diajarkannya.

Yaa parah kalo gurunya tau ada murid nggak bisa melulu terus dikatain “Kamu kok bodoh ya!”. Bisa diarak warga keliling kampung noh hihihi….

Kemauan untuk belajar pengetahuan yang baru ya wajib dong! Ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Teringat akan cerita suami pas masa sekolah di MAN dulu. Guru sejarahnya sesuai kok menerangkan yang udah ada di buku. Tapi ada satu yang nggak ada di buku saat itu “kenapa ada jalur yang dinamakan jalur sutra?”. Pertanyaan yang simpel banget sayangnya saat itu belum ada google yak! Eeh malah jadi drama sampe si guru nangis lah minta pembelaan ke guru yang lain dan berujung nggak mau mengajar.

“Jadi, sampai sini udah paham kan?”

Yes meski kelihatannya melatih keterampilan akan dianggap “sia-sia” oleh orang disekitar kita. Tapi saat kita beneran nih jadi orang lihatlah bagaimana reaksi mereka. Kalau malah mendekat demi dapetin duit yee maaf kata ya haha.

Oke, cukup sekian tulisan kali ini terima kasih udah baca cuap-cuapnya Mama Indri melalui tulisan.

Terjebak Dalam WAG Keluarga

Bagi yang belum tahu WAG itu singkatan dari Whatsapp Grup. Oke saya mau menuliskan tentang keresahan saya sebagai emak-emak milenial. Terlebih sekarang kita tahu ya ada UU ITE yang bisa menjerat siapapun bagi pelanggarnya. Termasuk kita… iya KITA!

“Keresahan saya ada pada banyak hal.”

Itu sebabnya saya cukup hati-hati dalam menuliskan sesuatu ke dalam WAG Keluarga. Bahkan kalau perlu lebih baik jadi penonton. Salah sedikit bisa menyebabkan saya di sleding sama salah satu anggota keluarga. Termasuk urusan bercanda. Sensitif banget ya! Niat bercanda berujung bermusuhan. Itu yang saya nggak suka dari WAG Keluarga.

“Udah begitu suka ada WAG turunannya lagi!”

OMG! Ini yang bikin aplikasi Whatsapp saya nggak berjalan maksimal. Hampir setiap detik bunyi “kluntingan” notifikasi dari grup masuk. Bikin pening karena cukup mengganggu aktifitas saya. Terpaksa di mute sejenak kalau dirasa terlalu mengganggu. Dari grup keluarga turun ke grup keponakan/cucu sampe akhirnya ke grup barisan sakit hati dan grup tandingan. Bayangkan betapa banyaknya cobaaa! Mana hape saya masih Ram 2Gb Rom 16Gb pula…! Duh pliss! Se-penting itukah?

“Kemudahan dalam bersosialisasi lewat dunia maya menciptakan dunia baru sekaligus bahaya didalamnya.”

Kita tidak menemukan “Mereka” yang sebenarnya. Namun menemukan copy-an dari “Mereka” yang nggak mirip bahkan FAKE. Bayangkan di dunia nyata saja terkadang kita dan anggota keluarga besar lainnya nampak baik-baik saja tapi di belakang sesungguhnya malah menusuk. Nah, apalagi jika mereka berada di dunia maya? Beruntung dan bersyukurlah buat kalian yang keluarga besarnya baik banget dan nggak palsu di depan asli di belakang. Lalu bahayanya dimana?

“Terlalu sensitif!!!”

Namanya keluarga loh meski di WAG tentu kita mau biasa aja bahkan lepas deh apalagi soal bercandaan. Ya, tentunya masih dalam batas kesopanan bukan panggil Om dengan sebutan hewan bisa ditenggelamkan ya! Maksudnya biar sedikit “luwes”. Tetapi justru yang terjadi kita kadang ditegur gegara bercandaan yang rasanya udah sesuai baku banget bahasanya. Biasanya yang masih muda nih yang kenaaa. Hayoo…ngaku nggak?

“Bahkan terlalu protokoler banget!”

Entah kenapa saya sih merasa begitu (maaf Mama Indri lagi baperr uhuy!). Biasanya terjadi pada saudara yang lebih tua atau yang lebih kaya harus kita hormati kita “iya-kan” segala perkataannya sampai harus kasih 10 jempol eh saya cuma 4 itu sudah termasuk jempol kaki. Mereka bercanda yang garing tapi kita musti ketik “hahaha” atau “wkwk” atau emot orang ngakak. Padahal kalau mereka ikut seleksi Komika udah tersingkir duluan sih. Soalnya kalau kita nggak bikin dia seneng bisa ditandai. Mati nggak lu! Minimalnya dihapus dari daftar keluarga besar.

“Saya dan suami malah lebih nyaman nggak dianggap.”

Nah parah lagi tuh suami. Lebih suka biasa aja daripada dianggap jadi anggota keluarga besar tapi musti protokoler buanget. Bukannya kami tak suka memiliki keluarga ya. Bahkan kami saat masih di Kota Bengkulu dekat dengan orang-orang yang bukan saudara. Namun kami anggap saudara sendiri karena kedekatannya begitu luar biasa.

Sebelum menutup tulisan unek-unek ini, saya cuma mau bilang :

Stay Safe, Stay Healthy, dan Salam WARAS!

Step By Step Pembuatan Buffet Aquarium

Tetiba ada WA masuk nih!

“Mbak bisa buatin lemari buat Aquarium kayak gini?”

Tiba-tiba masuk WA saat siang hari entah dari siapa. Saya pikir beneran orang lain. Tapi ternyata masih saudara sendiri juga dan dia ganti no hp. Yaelah… udah seneng bingit kalau orang lain (kalau saudara ya seneng kok kan dapet cuan). Saya tunjukkan gambar itu ke Bang Zain suami saya.

“Iya, bisa.”
“Dia tanya berapa Bang harganya?”
“Udah kasih tiiit (sensor) aja.”
“Bang, dia nawar.”
“Boleh deh asal jangan sadis bener.”

Akhirnya DEAL pesanan buffet aquarium. Suami kerjakan sesuai dengan gambar. Selama requestnya nggak aneh-aneh masih kita kerjakan. Nah, ada ya harga ratusan ribu udah dapet buffet aquarium plus di cat? Itulah uniknya di tempat kami hehe.

“Tentu tahap pertama kita beli multiplek yang ukuran 15mm.”

Bahan multiplek 15mm sudah tebal bahkan mau diduduki orang dewasa pun bisa. Itulah sebabnya kami pilih bahan itu sebagai bahan dasarnya. Setelah di potong sesuai pola baru di rangkai. Oh ya karena ini untuk buffet aquarium yang aquascape itu lho tentu butuh tangki oksigen eh tangki apa itu haha…. Jadi dibuat lubang di bagian belakangnya.

“Mbak bagian samping dibikin bolong biar enak pas angkatnya.”

Dua sisi di bagian kanan dan kiri dilubangi. Buat mudah pas diangkat. Dia takut kalau ini berat padahal nggak loh. Ringan malahan (sudah saya tes angkat soalnya). Lalu pintunya dibuat model tik tak (yang kalau dibuka bisa bunyi tik dan tak). Itu lebih hemat daripada harus dipasang kunci. Btw, ini buffet aquarium jelas lah gak bakalan buat nyimpen foto mantan eh nyimpen benda berharga maksudnya.

“Sentuhan terakhir di cat.”

Biar cepet kita pakai cat duco. Selain cepat, warnanya merata dan nggak ada bekas kuas. Eh, kok bisa nampak mengkilat? Ada rahasianya dong. Hanya para tukang cat dan tukang kayu yang tahu hehe. Setelah jadi saya dan suami yang antar sekalian antar pesanan paddle (kalau belum tahu paddle itu apa lihat postingan saya tentang Tonis ya).

Merasakan naik roda tiga-nya Viar sambil jagain tuh buffet biar tetap berada di posisinya. Meski udah diikat pakai tali tapi harus tetap dijagain biar nggak pindah ke lain hati eh pindah kemana-mana.

Siap berangkaaat!

Mau pesen juga?
Masih area Kota Semarang dan sekitarnya?
Langsung cuzz kesini aja sst… kita udah berganti nama lho.

Meubel Bintang Furnitama
Jl. Plamongan Sari V RT 01 RW 09 Kel. Plamomgansari Kec. Pedurungan Kota Semarang, Jawa Tengah.

Tanya dulu boleh yess gratis kok!
WA : 089530937382 atau 085768202719

Bonus foto step by step nya yaa…