Ikut Pelatihan Podcast Siberkreasi

Karena saya sekarang lebih mendalami dunia podcast jadi mohon dimaafkan yak! Tenang saya akan tetap posting hal-hal yang menarik menurut saya.

“Saya memutuskan ikut kelas podcast Siberkreasi yang diselenggarakan oleh Kominfo.”

Kelas ini spesial banget ya karena dukungan utamanya dari Kominfo. Artinya nggak main-main dong isi pelatihannya. Saya suka banget karena materi yang disampaikan cukup bagus apalagi untuk pemula di dunia podcast. Meski saya sudah memulai podcast duluan bukan berarti saya jadi senior loh! BUKAN! Saya tetaplah pemula. Karena dunia podcast yang saya jalani ini belum ada hitungan satu tahun.

“Apa saja sih materinya?”

Buanyaaak…! Dari pertama kali memulai membuat podcast, aplikasinya apa saja sampai alat yang akan digunakan untuk recording. Bagi yang belum tahu podcast itu apa ya, podcast itu seperti radio tapi lebih fokus kepada satu tema tertentu yang dibahas dalam satu episode. Kelebihannya adalah bisa diputar berulang kali kapan pun kita butuhkan. Asal terhubung dengan internet ya! Podcast ini juga hanya bisa didengarkan di aplikasi tertentu seperti Spotify atau Google Podcast dan aplikasi lainnya. Kelemahannya tentu saja tidak nampak muka si podcaster dan tidak disarankan bagi teman kita yang tuna rungu.

“Meski begitu, podcast di Indonesia ini sudah mulai nampak perkembangannya.”

Bener banget! Apalagi di tengah pandemi begini ya. Kita butuh banget hiburan dan larinya kalau nggak TV, radio, Youtube, dan tentu saja Podcast. Memang podcast menjadi penyegar baru dalam dunia hiburan. Cocok juga buat yang pengen ngoceh tapi nggak suka mukanya ikutan tampil. Belum lagi iklan sudah mulai masuk loh ke podcast (dapet cuan cuy…!). Cuma untuk monetize ya belum bisa dong, setidaknya kita rajin aja upload episode baru. Siapa tahu ada yang minat buat pasang iklan di podcast hehe….

“Pelatihan Batch pertama udah selesai nih.”

Yaah sayang banget ya! Tapi tenang aja. Masih ada pelatihan berikutnya silahkan klik link di bawah ya untuk pendaftaran. Biar bisa ikut pelatihan keren ini loh. Kapan lagi sih bisa ikut pelatihan gratis dan materinya lengkap banget dah gitu disiarkan secara Live via Youtube. Jangan sampai ketinggalan ya buruan ikutan Pelatihan Podcast Siberkreasi Batch 2.

http://kelaspodcastsiberkreasi.com

Fath Punya Cerita : Sosis Bakar “Zai Putri”

Kapan deh ya pandemi ini berakhir? Terkadang kesel juga mau cari kerja susah, buka usaha modal belum ada, tapi kebutuhan ada terus.

Yaah seperti itulah kondisi sekarang, carut marut soal keuangan. Saat ini hanya bisa bertahan itu saja. Minimalnya masih bisa buat makan. Itu menurut pemikiran para orang tua. Well… bagaimana dengan anak-anak?

Tentu berbeda jauh mereka kan cepat bosan. Sudah susah buat keluar, kondisi keuangan tipis-tipis, yaah akhirnya lari ke smartphone buat pelampiasan. Kuota internet malah jadi kebutuhan utama mereka baru soal jajan dan ehem ehem (banyak banget deh ya).

“Pusing jadi emak zaman now!”

Semuanya nyaris di online kan. Tapi anak-anak memang tidak terlalu sering beli barang lewat online kecuali yang pernah ditawarkan di media sosial ya. Itu juga sistem COD-an maunya mereka.

Nah daripada beli beli beli mulu kan saya akhirnya kepikiran kenapa nggak jualan lagi aja? Anak-anak itu dulu pas di Bengkulu jualan bakso bakar. Ya, sudah lama mau mewujudkan dan sayangnya kepentok di modal. Sampe akhirnya dikasih modal sama neneknya berupa peralatan dan sosis sama baksonya.

“Cuzz…langsung mulai aja kali ya!”

Jualan di teras rumah jadi kalau hujan atau panas tetap aman. Daerah tempat tinggal saya memang banyak anak-anak. Tapi jangan salah mereka jarang jajan sih hahaha…. Begitulah awal mula jualan sosis bakar yang diberi nama “Zai Putri Sosis Bakar”. Sepi cuma beberapa anak dan sempat laris heboh saat ada lomba 17-an di RT.

“Namanya juga jualan ada naik dan turunnya.”

Apalagi ini jualan di lingkungan perkampungan ya tahu sendiri deh. Sekalinya pembeli dari luar itu paling orang lewat. Meski begitu saya lihat antusias anak-anak dalam berjualan tidak surut. Sepi atau rame tetap mereka buka. Modal yang ada bisa diputar kembali untuk membeli bahan.

Lumayan buat uang tambahan jajan atau saat keperluan mendesak. Yaah meski belum bisa digunakan untuk beli peralatan perang eh peralatan kosmetik (entah kenapa saya kalah kalau urusan kosmetik sama anak-anak). Semangat mereka berjualan itulah yang saya jaga agar tidak mudah luntur.

Nah, buat kalian yang masih satu Kota Semarang, tepatnya di Pedurungan kelurahan Plamongansari, pingin jajan, silahkan mampir ke Zai Putri Sosis Bakar ya!

Bonus foto-foto yaah….

(Menu utamanya ya sosis bakar meski ada terkadang varian menu lainnya)

(Dulu ada jenis-jenis tempura sekarang udah nggak)

(Malem pun tetap rame didatangi anak-anak)

Dapat Bintang Satu? Libas saja!

Kayak iklan sampoo ini mah! Main libas saja hehe….

Buat saya kalau rate bintang satu ini menghancurkan karir semisal di aplikasi ojol ya sedih deh. Tapi kalau di platform menulis online? Hm… tunggu dulu deh!

(Saya mau kasih contoh bintang satu itu seperti apa sayangnya nggak pernah dapat)

Seperti postingan dulu, bahwa saya saat ini aktif di salah satu platform menulis yaitu Joylada. Memang ini menjadi platform yang melejit karena penulisnya bisa dibayar berdasarkan jumlah joy yang didapat. Joy itu sendiri nantinya dapat dari para pembaca yang mampir ke tulisan kita.

Sama seperti platform menulis lainnya yang pernah saya coba. Setelah posting karya kita atau upload deh (duh enaknya pakai bahasa yang mana hahaha….) kan ada sistem rate atau penilaian. Pembaca berhak menilai tulisan kita seperti apa.

“Penilaian yang seperti apa?”

Kalau kata orang Bengkulu “basing lah!” dan kalau kata orang Jawa “sakarepe”. Meski sistem penilaian ini menurut saya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bukan sistemnya yang error namun penggunanya terutama penulis lainnya memanfaatkan itu sebagai media promosi.

“Saya juga tidak bisa menyalahkan sih. Kembali lagi kepada mereka sebab setiap orang punya caranya masing-masing dalam mempromosikan diri.”

Untuk saya sendiri akan mengatakan “TIDAK” dalam mempromosikan cerita dengan cara seperti itu. Sejujurnya seringkali saya merasa terpaksa harus datang ke cerita mereka. Hanya gara-gara sebuah penilaian yang mereka berikan. Makanya tidak akan gerak cepat ketika ada notifikasi dan meminta saya untuk datang ke cerita mereka. Memaksa melakukan hal yang sama yaitu memberikan bintang (bintangnya lima kalau perlu dan dibaca semua ceritanya).

“Ah, sombong kali kau baru juga jadi penulis!”

Bukan apa-apa ya! Masalahnya ada yang hanya sekedar datang serta memberikan bintang penilaian. Padahal nggak baca tapi kasih bintang dan bilang “ceritanya bagus kak!” Bagus dari mana kalau nggak baca, Sayang!

“Saya butuh pembaca bukan bintang!”

Joy hanyalah sistemnya untuk penanda bahwa cerita kita ada yang baca. Maaf nih ye, saya bisa kok kasih bintang saja tanpa baca. Seorang penulis tak akan disebut penulis jika karyanya tidak ada yang baca.

“Tenang, saya tetap akan datang ke orang yang sudah kasih bintang atau yang tulis di fan board.”

Meski di fan board pun sebenarnya juga bukan tempat promosi. Namanya juga “Fan Board” yang artinya papan penggemar. Fungsi seharusnya ya untuk menanyakan cerita yang kita sukai pada penulis atau sekedar menyapa sang penulis. Iya betul, saya tetap akan datang berkunjung ke mereka yang nulis di Fan Board. Sebagai bentuk apresiasi saya ke mereka yang udah menyempatkan diri mampir ke profil maupun yang baca cerita saya. Itupun hanya waktu tertentu ya!

“Terus gimana sama yang kasih bintang satu?”

Duh, jangankan bintang satu! Ada yang komentarnya bawa nama agama. Biasanya saya kepoin apakah dia penulis? Eh, ternyata iya tapi maaf ya orang yang begini seringnya pun ceritanya disembunyikan atau hanya sekedar pembaca. Sebab dia nggak mau di kritik balik. Apa yang kita tulis akan dipertanggungjawabkan loh! Makanya berani menulis saya pun harus berani menghadapi bintang satu maupun komen sarkas. Tapi cukup berhenti sampai disitu saja!

“Ya buat apa marah? Toh orangnya nggak kelihatan!”

Sama seperti kita bermain media sosial. Ada yang suka dan ada yang tidak suka. Ya sudah biarkan saja! Memang mau diapakan? Santet? Ah! Kalau saya malah tantang buat ketemuan. Ayo kita diskusi bareng dimana letak ketidak sukaaan dia sampai berkomentar jelek dan kasih bintang satu. Kalau perlu tantang dia buat bikin karya juga. Bisa nggak karya dia melejit dan tanpa ada cela? Kalau bisa berarti dia memang penulis hebat!

Sebelum menutup tulisan ini,
saya ada satu hal yang menarik untuk dibagikan kepada para penulis di platform manapun, bahwa :

Seorang penulis yang handal tidak akan asal mengkritik penulis lainnya jika tidak diminta.

Mau kasih duit THR Kok Gitu?

Kasih duit pas Lebaran itu emang udah tradisi banget ya! Sayang, tahun ini nggak bisa kasih anak-anak duit THR-an. Alhamdulillah mereka tetap dapat bahkan lebih banyak dari tahun sebelumnya. Sebab saudara banyak yang kasih mereka. Saya sih bersyukur saja sebab mereka masih merasakan senangnya di hari Lebaran meski kena pandemi Corona begini.

“Tapi ada yang buat saya kurang sreg!”

Apaan tuh? Ciee… Mama Indri nggak dapet yaa. Terus iri deh karena biasanya dapat. Duh, bagi saya duit bisa dicari nggak perlu pusing. Bakalan pusing kalau udah waktunya bayaran tagihan air bulanan. Saya mempermasalahkan soal sikap memberinya.

“Saya orang yang pernah jadi orang kaya. Duit bersliweran udah biasa banget. Kasih orang udah biasa banget! Tapi pliss attitudenya.”

Iya, tabungan puluhan juta pernah punya. Kasih orang duit ratusan ribu pernah. Lantas apakah hal itu membuat saya jumawa? Oi! Biasa aja keles! Saya bukan anak kecil lagi yang biasa dikasih uang saat Lebaran. Saya sudah nikah je!

Malahan harusnya saya yang ngasih duit. Tapi tak apalah besok kalau sudah kaya lagi saya yang kasih duit. Jika ingin memberikan uang pada anak-anak atau adik saya yang belum nikah ya sah. Hal paling penting yang perlu saya garis bawahi jangan diikuti dengan perkataan semacam ini :

“Mbaknya kan udah nikah jadi nggak usah ya ini buat anak-anak aja. Nih, satu-satu ya.”

Hambok pikir anak-anakku serakah soal duit po! Oke deh anda nggak mau kasih ke Saya ya Udin-lah. Eh, kasihan ini Udin dibawa terus ya. Saya cukup tertawa geli mendengar perkataan semacam ini. Dipikir saya akan manyun kalo nggak dapat duit sepeser pun. Lantas menangis dan merasa tak ingin menikah jika akhirnya begini. Laah… saya sudah sadar siapa saya sekarang. Beruntung yang dengar saya. Bagaimana jika yang dengar itu orang baperan?

Ada lagi saat diajak berkunjung ke saudara lainnya. Iya, udah lama banget nggak ketemu sama beliau. Saya sebut beliau karena lebih tua banget banget dari saya dan suami. Kebetulan anak-anak tidak ikut adanya adik saya yang satu-satunya belum menikah.

Normalnya kalau kita berkunjung ke rumah saudara yang lama nggak ketemu pasti ngobrol keseharian. Saya dan suami saat ini sedang merintis usaha mebel kecil-kecilan. Ah! Rasanya saya dan suami sudah hemat omongan. Tak ada yang berlebihan dalam menyampaikan keseharian kami berdua. Namun saat pemberian duit dalam amplop pada adik saya itu tiba… muncul kalimat yang pengen banget saya tonjok orangnya :

“Ini buat adiknya. Mbaknya nggak usah ya kan katanya udah jadi pengusaha.”

Hadeuh… emang kalau saya pengusaha kenapa? Kagak boleh yess? Atau situ sirik? Bilang aja deh bambaaank eh ini ban eh bang kok dibawa lagi.

“Tidak selamanya kondisi kita diatas!”

Sekian banyak orang yang pernah memberi saya, apalagi anak-anak. Jika memang tak berkenan memberi dihadapan saya ya cukup saja saat sedang pergi atau kasih ke anak-anak saya. Udah gitu aja! Ada salah satunya yang saya apresiasi dalam memberi secara langsung ke anak-anak seperti ini :

“Mbak Indri mana ya sama Mbak Anty juga Mbak Fath.”

Kalau anak-anak ada disitu langsung menghampiri. Kecuali pas mereka di tempat lain biasanya saya panggil. Baru setelah itu :

“Ini ya satu-satu. Masing-masing orang dapatnya sama dua ratus ribu.”

Nah, begitu kan lebih enak. Tanpa menyinggung saya sebagai ortunya. Saya akan senang anak-anak dapat uang dari orang lain. Sebab mereka bisa belanja sesuai kebutuhan masing-masing.

Sebelum menutup tulisan ini,

Memberi itu boleh. Namun menjatuhkan yang lainnya jelas tidak diperbolehkan.

Saat ini kita punya harta banyak. Bolehlah kita sombong.

Namun saat kita jatuh, berada dibawah, kita pun akan diperlakukan orang seperti itu juga.

Kita Mau Nyalakan Mercon Jangan Kaget Ya!

“Dhuaaar…!”
“Lah itu mercon a.k.a petasan apa bom atom?”

Peristiwa yang saya alami justru saat malam takbiran. Iya sih di malam itu suara takbiran akan kalah dengan suara letusan petasan. Sangat berbeda jauh dengan tempat saya tinggal dulu. Petasan sudah diminimalisir oleh RW setempat. Berbeda dengan tempat saya tinggal sekarang usai nikah. Hampir setiap gang setiap jalan selalu ada aja anak-anak main petasan.

“Memang main petasan nggak boleh ya?”

Boleh banget main petasan. Tapi ya tau tempat tau diri. Kadang juga anak-anak main petasan nggak diawasi. Hasilnya aneh-aneh. Ada yang dulu main petasan sambil dimasukin ke telinga. Iyalah tahu sendiri hasilnya apa. Nggak perlu panggil Pak Tarno sambil bilang “sim salabim jadi apa prok prok prok!”

“Belum lagi kalau main petasan ditengah jalan.”

Saya belum pernah tahu sih kira-kira pernah nggak ya ada kejadian pas main petasan ditengah jalan ada mobil lewat eh meledak hancur berkeping-keping tuh mobil. Kalau iya ada mungkin petasan langsung dilarang. Mungkin karena belum pernah ada. Gunanya main petasan sambil diawasin ortu adalah supaya tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Tapi kalau ortunya sendiri juga kek begitu udah biarin anaknya ntar kalau ada yang dirugikan akibat petasan yang dinyalakan sama anaknya cuma bilang “lah salah situ kok lewat dah tahu anak saya lagi main petasan.”

“Iya harap maklum yang bikin jalannya tuh nenek dia.”

Hayo ngaku siapa yang kayak gitu? Saya ogah gitu soalnya yang bikin jalan RW dan Kelurahan setempat hehe. Pokoknya tau tau Saya udah nongol aja disini. Jadi, pada dasarnya main petasan boleh banget ya cuma inget, di tempat yang memang tidak akan menganggu ketenangan batin orang. Eh apa sih ini?!

“Gimana jadinya main petasan letusannya udah kek bom atom besoknya ada tetangga meninggal.”

Gegara gak kuat denger suara petasan. Tapi belum pernah sih rasanya. Hal paling penting dalam bermain petasan adalah pastikan tempatnya jauh dari pemukiman penduduk.

“Kelamaan cari tempatnya!”

Oke deh tempat yang lapang di lapangan RT boleh dah. Kaget its OK tapi saya akan lebih menghargai yang mainnya disitu aja. Jangan malah letusin di jalan. Itu sih namanya sudah gangguin ketenangan orang dalam berkendara.

“Ada halaman luas tuh di depan rumah.”

Iya, tapi cek juga kalau halaman rumah kita doang luas terus sebelahnya masih ada rumah lainnya ya terganggu seh. Hargai tetangga kita sebab mereka tidak semuanya suka petasan. Kalau mereka marah terus kita bilang “salah sendiri jadi orang kaget mulu.” Ih hati-hati sama tetangga ya. Merekalah yang ada saat kita kesusahan. Kalo mereka kecewa sama kita pas minta tolong malah dibilangin “salah sendiri gak menghargai tetangga sori ya bantu kamu.”

“Ada yang ngomong ke anak-anak kalau dia mau menyalakan petasan dan berkata, jangan kaget ya.”

Ini nampaknya normal banget ya bahkan sopan. Saya pikir juga standarnya suara petasan deh ya. Tapi ternyata petasan yang mereka nyalakan bukan petasan beli di toko. Lebih ke meracik sendiri terus yaaah tahu deh ledakannya seperti apa. Bahkan letusan yang terakhir itu buat rumah yang saya tempati bergetar berasa gempa. Eh, serius deh!

“Mau marah lah dia udah ijin. Besok udah lebaran pula.”

Serba pusing kan ye. Belum lagi yang main petasan kan ini remaja. Ditambah ada orang tua yang justru membiarkan petasan semacam itu. Kalau memang sudah tahu petasan itu letusannya besar ya ada baiknya main di kebun orang ajalah. Tempat saya tinggal sebenarnya dekat dengan sawah kan main disitu aja atau kalau mau di dekat kuburan (kirain nggak ada yang berani eh ternyata ada).

“Jadi, mari kita akhiri tulisan absurd tentang petasan ini.”

Jika ijin tak selamanya lantas itu menjadi benar. Kembali pada kegiatan yang dilakukan. Bikin kaget orang pakai petasan duh siapa sih yang nggak was-was?

Kembali Ke Fitri, Kembali Ke Nol, Bersihkan Pertemanan Toxic

“Karena nila setitik rusak susu sebelangga.”

Peribahasa itu yang tepat untuk kondisi saya tepatnya H-2 sebelum lebaran. Saya punya banyak teman di dunia maya. Tentu juga kalian, namun beberapa ada yang saya hapus. Masih ada yang saya pertahankan jika itu teman kuliah, pernah bertemu di dunia nyata, sampai pelanggan Zain Carpenter Meubel.

“Namanya juga teman ya. Berbagai macam sifat ada didalamnya. Mau yang keras kepala sampai yang kocak pun ada.”

Apalagi pertemanan di dunia maya itu absurd banget! Di dunia maya dia hebat eh saat ketemu langsung 180 derajat beda. Belum lagi mereka yang kebanyakan posting status keluhan itu bikin eneg dilihat, tambah yang simpatisan politik. Makin pengen muntah lihatnya. Itulah sebabnya saya coba kurangi teman dunia maya yang justru toxic alias beracun. Bukan berarti mereka membawa racun beneran lebih tepatnya meracuni pikiran kita.

“Racun pikiran itu apa sih?”

Contoh enaknya begini deh :

Kalian saat scroll lihat status orang yang bisanya mengkritik pemerintah melulu. Saat mau baca status eh dia lagi dia lagi…hadeuh! Isinya kritik doang tapi di status. Pas ditantang beneran eh ngacir orangnya. Yee…bijimane sih ya!

Mama Indri baca yang kek begitu langsung berasa kena racun. Iya racun pikiran! Makin lama kita bisa ketularan loh. Jadi, ikutan kayak mereka. Lah ini sih lebih serem daripada Corona bisa menular lewat dunia maya.

“Sama seperti yang dialami Mama Indri sebelum lebaran.”

Jadi, Saya baca status Pak Walikota Semarang yang isinya adalah seseorang tag beliau. Orang ini bermaksud mengkritik kondisi Kota Semarang yang belum apa-apa sudah pada ke Mall. Sayangnya kritik yang disampaikan menggunakan Bahasa Inggris. Bukannya bahasa yang digunakan tidak sopan, tapi lihat dulu konteksnya. Apa itu?

1. Ini Pak Walikota lho…tetap ada etika dalam berbahasa. Bapaknya kan bisa Bahasa Indonesia. Ya, gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Oke deh mau pakai bahasa daerah nggak masalah. Gunakan bahasa daerah yang halus.

2. Kita wajib menguasai bahasa asing standar Internasional yaitu Bahasa Inggris. Sebab itu berguna dalam mencari pekerjaan. Tapi gak usah pake pamerin ke Pak Walikota keles main tag pula! Ndeso lu!

Saya buat tangkapan layar status Pak Walikota. Sayang sudah saya hapus dari galeri hp. Lantas saya unggah kembali di akun FB dengan maksud mengambil pembelajaran soal berbahasa yang baik. Semula tak ada masalah berarti sampai akhirnya ada salah satu teman dunia maya yang kasih emoji ketawa dan berkomentar. Saya lupa komentarnya apa intinya adalah :

“Suka-suka deh kan pakai Bahasa Inggris yang jelas bahasa internasional. Penting kan nasionalismenya tinggi. Lagian hal receh begitu dikomentarin. ”

Waduh! Receh! Betul ini hal receh tapi sadar nggak kita, bahwa selama ini lupa berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Soal istilah asing yang masuk dan susah untuk di-bahasa Indonesiakan itu wajar sih. Saya dalam menulis di blog ini pun juga begitu. Tentu saya jelaskan maksudnya bahwa Saya bukannya menokohkan apalagi membela Pak Walikota Semarang. Namun saya mengambil pelajaran berharga tentang berbahasa yang baik.

Kalau mau latihan ngomong Bahasa Inggris yuk sama Mama Indri aja! Paling saya jawab Yes No hahaha…. Apalagi yang mau pakai Bahasa Planet Namex hayooh sini loh yaa Mama Indri ladenin! Sayang, jawaban teman dunia maya saya kurang berbobot.

“Pantaslah dia nggak akan pernah bisa jadi presiden berbeda dengan Pak Jokowi yang dikritik apa aja dicuekin apalagi yang kritik itu….”

Lho lho lho…kok Pak Jokowi dibawa-bawa ini apa sebab? Lah kalau Pak Walikotanya nggak mau jadi presiden ya udin lah! Eh kok udin dibawa-bawa seh yaa? Saya udah komen jelasin eh dia kemana nggak tentu arah. Duh…ini jelas udah nggak sehat!

“Itu sebabnya Saya benci menokohkan seseorang. Boleh menghormati tapi jangan macem fans gila.”

Semua ditabrak nggak tentu arah. Memang Saya ada makna membela Pak Walikota? Tentu sebagai warga yang baik Saya menghormati beliau. Beliau ada yang kurang tepat dalam bertindak menangani Kota Semarang tentu saya jadi nggak suka. Tapi rasa nggak suka itu hanya berlangsung sekejap saja. Sebab saya selalu menanyakan pada diri sendiri seperti ini :

“Eh, memang kalau kamu nggak suka terusan kritik sampe bibir jontor terusan bisa merubah kondisi Kota Semarang? Emang kuat jadi Walikota?”

Itu beraaat Dilan aja nggak sanggup. Biar Pak Walikota aja yang jadi pemimpin Kota Semarang ini. Saya cukup jadi warganya aja.

Yaah…Saya nggak tahu sebenarnya ada apa dan kenapa? Sebenarnya saya sudah tahu sejak awal teman saya itu pendukung setia Pak Jokowi. Saya cuekin sih yang penting saya tetap berteman baik tidak memojokkan apalagi bikin rusuh. Hanya saja dia beberapa kali suka komen yang menohok. Saya tergabung di grup FB milik dia yang isinya gado-gado dan berharap hanya jadi hiburan semata. Saya posting apapun untuk hiburan eh dianya komen ciyus amat. Komen enak gak masalah, masa’ pamer masakan saya sendiri di grup punya dia komennya nyelekit? Yee…apalah Saya yang hanya seorang Ibu Rumah Tangga. Bukan seorang Chef! Hasil masakan ala-ala ya gitulah.

Saya rasa sudah banyak menahan diri. Perlu untuk memanusiakan diri saya sendiri. Mempertahankan pertemanan semacam itu yang jelas toxic a.k.a beracun? Hal paling konyol dalam hidup ini! Saya ingin hidup waras!

“Saya keluar dari grup milik dia dan blokir akunnya.”

Terima kasih atas pertemanannya ya! Terima kasih juga sudah kasih banyak barang ke Saya. Tapi maaf saya tidak bisa mempertahankan pisau yang menusuk tajam ke dada saya perlahan. Saya minta maaf sudah terlalu baper sampai nulis di blog juga. Lebih baik begini daripada rasa sakit hati yang selalu saya bawa dalam kehidupan.

Permainan Itu Bernama HARGA

Sebagai konsumen selama ini sebenarnya saya sering mengamati barang yang dibeli, berapa harga, belum lagi kualitas juga kuantitasnya. Ini bukan soal saya terlalu perhitungan dalam belanja. Bahkan saya masih terhitung boros.

“Lagi nge-hits Oreo Supreme dengan harga selangitnya itu.”

Maaf ya jadi nyebut merek. Tapi saya ingin bahas di blognya Mama Indri kali ini. Soalnya saya pernah membeli barang yang semacam biskuit “Sultan” itu juga. Hanya bedanya ini bukan makanan melainkan produk skincare. Dih! Perempuan memang susah dipisahkan dari skincare yak!

“Semua bermula dari pemikiran saya bahwa semakin mahal barang maka semakin baik untuk kita.”

Pikiran semacam itu bahkan masih lho bercokol dalam kepala saya. Meski tidak seheboh dulu saat masih punya uang banyak. Saya yang sudah frustasi saat itu, wajah yang nggak jelas lagi dengan jerawat dimana-mana akhirnya tertarik sama promosi sebuah sabun produk MLM. Dimana sabun ini diklaim dapat mengatasi masalah apapun pada kulit.

“Punya duitnya kok kenapa nggak beli?”

Beneran daftar MLM ini beli sabunnya yang seharga 400 ribuan dapat 2 batang. Sabun yang mengandung bahan alami diimpor dari negara nun jauh disana. Konon bahannya tidak ada di Indonesia. Saya juga diimingi jika berhasil menjual dapat poin yang nggak akan hangus dan poinnya bisa ditukar dengan diskon pembelian. Saat sabunnya datang di depan mata saya, ukurannya nyaris sama dengan sabun batangan hotel. Saya bilang nyaris sama loh ya bisa jadi lebih gedean dikit. Semakin besar ukuran sabunnya semakin mahal.

“Awas jangan sebut merek di kolom komentar ya buat yang tahu! Nanti saya timpuk pakai batu bata tinggal ambil di sebelah tempat bakaran batu bata.”

Sebenernya ada rasa “celekit” di hati. Tapi baiklah namanya juga ikhtiar kan. Siapa tahu memang ini terbukti. Memang dalam promosinya selalu bilang “hasil setiap orang berbeda” ada yang baru 3 bulan tapi ada yang sampai satu tahun. Ada yang efeknya keluar jerawat banyak lalu perlahan menghilang. Tapi di saya tak ada efek mengerikan apapun sih.

“Saya nggak sekali beli sabun itu udah entah berapa kali.”

Tetap sabar mengikuti instruksi yang diberikan oleh orang yang promosikan sabun. Sebenernya saya udah mulai suka sama sabun ini meski lama luar biasa untuk bisa membaik ini wajah. Kalau sampai putih hasilnya nggak sih. Cuma ya lumayan deh. Hingga akhirnya saya putuskan berhenti.

“Lho kok gitu?”

Pertama soal saya nggak punya duit buat beli lagi. Kedua saya mikir begini, sabun buat jerawat banyak ya kenapa saya harus terjebak untuk membeli sabun ini? Silahkan bilang saya nggak sabar sama prosesnya tapi sadar diri bahwa uang 400 ribu bisa kebeli beras sekarung gede plus gulai mentah buat dimasak dan dimakan rame-rame. Eh, masih sisa bisa buat beli kuota internet lumayan deh.

“Saya bukan gak peduli sama wajah tapi semenjak nikah banyak berpikir ulang untuk membeli sesuatu.”

Dengan jumlah uang yang sama, satunya bisa memenuhi kebutuhan macam-macam. Satunya lagi hanya mampu beli dua batang sabun. Bagi yang masih single rasanya nggak akan masalah. Berbeda dengan yang sudah menikah pastilah mulai berpikir dua kali. Kebutuhan untuk keluarga lebih saya dahulukan daripada kebutuhan buat wajah. Kecuali ada uang sisa banyak nah baru saya belikan buat kebutuhan pribadi saya.

“Mahal tak melulu bagus lho.”

Mahal memang tak melulu bagus. Tergantung dari kualitas produk itu juga. Selain itu lihat juga sebelum membeli apakah sebenarnya kita sudah cocok dengan barang yang harganya dibawah itu? Kalau sudah ngapain kita membeli barang yang fungsinya sama dengan harga fantastis?

Jangan jawab di kolom komentar. Jawablah di dalam hati kalian masing-masing.

Tak Melulu Harus Uang

Saya cukup sedih saat segala sesuatunya harus dinilai dengan uang dulu. Jika itu sebuah profesi wajib dong sebab ada pengorbanan waktu berapa lama kita belajar. Belum modal yang harus dikeluarkan saat proses menguasai suatu keahlian.

Nah, perlu kita tahu dulu mana yang duitnya duluan dan itu sebuah profesi, mana yang itu hobi tapi menghasilkan uang. Menulis di blog, membuat kerajinan, konten kreator youtube dan lainnya termasuk pemilik konten podcast. Pada dasarnya itu berangkat dari kegiatan ringan yang disebut hobi lantas kita seriusin dan bisa jadi duit. Ingat…butuh proses! Itu sampe air mata yang keluar berdarah-darah!

Makanya saya benci dengan mereka yang berusaha nulis di blog langsung sasarannya ke uang, uang dan uang. Nulis di blog mudah! Tapi kita butuh skill menulis yang baik untuk meningkatkan pengunjung. Lha kalo gak ada angin gak ada hujan adanya petir, tau-tau bilang : buat blog ah! Biar dapat penghasilan guede. Mau saya lempar ke laut selatan!

Kalau kalian memang maunya duitnya duluan malah nggak disarankan buat blog pribadi, terus berharap duit datang. Bagi saya punya blog pribadi wajib, itu untuk portofolio kita. Sekaligus memajang tulisan yang tidak lolos redaksi manapun misalnya, dengan sedikit edit. Kalau mau duitnya bener ya nulis di situs website yang pasti terjamin membayar para penulisnya. Bisa juga menjual jasa menulis kita seperti, jasa-jasa penulisan artikel. Tapi ingat balik lagi! Pastikan kita tetap terus belajar menulis ya agar hasil tulisan enak dibaca.

Itu baru pembahasan kita mau jadi penulis blog. Nggak instan kan! Makanya heran kadang baru nongol kemarin sore, udah self hosted, terus nanya “berapa penghasilan temen-temen selama ini?” Mak-mu ah! Maaf kasar ye suka kesel sama model beginian. Kecuali dia pemain lama boleh doong. Bahkan setahu saya narablog yang tingkat dewa kok nggak pernah nanya begitu ya? Sejujurnya pertanyaan semacam itu bisa merusak apa saja.

“Iya, teori uang, uang dan uang bisa merusak apa saja.”

Bayangkan saat saya fokus ke nulis fiksi pertanyaannya “kakak, sudah pernah terbitkan buku dan dapat berapa uang?”

Fokus buat podcast lagi hepi dan seneng lantas ada yang nanya “Berapa penghasilan mbak? Sudah pernah diambil kah?”

Nah apalagi ini pas pernah mengelola channel youtube punya suami lantas ada yang komen “sudah berapa lama mas bikin kontennya? Jangan lupa saling subs ya no skip iklan tonton 3 menit. Hoi! Saya beli kuota buat upload video nyanyi suami bukan mau nonton konten absurd gak jelas dipaksa nonton iklan pula! Saking nggak jelasnya konten Youtube tuh cuma nunjukin perjalanan dia naik motor pake kamera go pro kemana entah eh ujungnya beli kopi anget di mart mart gitu deh.

“akibat komporisasi uang, uang, uang ini orang frustasi.”

Dipamerin uang sama makhluk antah berantah yang ngaku senior. Termasuk ditawarin beli penonton kalau di youtube, beli visitor atau payahnya beli traffic biar blog rame (saya kurang paham kalau sekarang, dulu pernah ada yang menawarkan jasa biar blognya rame). Kalau menulis fiksi nggak tau deh apakah ada sistem membeli para pembaca biar karya kita nampak rame di platform menulis. Apakah di podcast bakalan terjadi membeli para pendengar? Saya belum tahu juga.

“Jalan pintas ditawarkan hanya bagi mereka yang frustasi. Tapi ini tidak akan jauh dari yang namanya penipuan.”

Makin frustasi sebab duit melayang, tak dapat apapun, bahkan malah kita masuk dalam lingkaran bisnis “mereka”. Kembali lagi ya proses itu penting. Nikmati saja sebab mereka sekarang yang bisa berpenghasilan prosesnya bukan satu atau dua hari bahkan tahunan.

BAGAIMANA JIKA ITU MEMANG SEBUAH PROFESI?

(Gambar hanya pemanis)

Rasanya bahasan yang mau saya comot tak usah terlalu jauh ya. Ambil contoh dari kehidupan keseharian saya sebagai istri dari seorang tukang kayu. Menjadi seorang tukang kayu seperti suami itu nggak mudah. Dia belajar sejak masih bersekolah di MAN 2 Kalianda Lampung.

“Berawal dari membantu tetangganya yang tukang kayu.”

Aduh, berapa sih gaji anak MAN yang bagian memotong balok kayu pakai gergaji biasa? Bahkan sering jadi bagian ngamplas. Justru belajar dari sini, berproses dengan bekerja di Tangerang, hingga akhirnya bisa jadi tukang kayu ahli di Bengkulu dan lanjut di Semarang.

“Berapa lama prosesnya? Kira-kira berapa duit?”

27 tahun lamanya! Itu sudah termasuk belajar pakai alat. Hoh! Sejak saya belum lahir sampe sudah nikah sama dia. Berawal dari gaji harian ala-ala, gaji serius yang sampai menyentuh angka 5 juta, turun lagi karena buka usaha duitnya gak tetap, sampai akhirnya seperti sekarang.

“Ini bedanya profesi dengan yang diatas.”

Apa yang saya sebutkan diatas pada dasarnya bisa menjadi sebuah profesi. Tapi tetap berawal dari hobi. Berbeda dengan tukang kayu yang murni profesi. Mosok bikin lemari tuh berawal dari hobi? Lemari kan sebuah kebutuhan. Sejak awal membantu di mebel tetangga pun suami langsung dapat uang. Sangat beda dengan saya yang saat buka blog pertama kali ya udah cuma buat nulis aja meski pada akhirnya ada perkembangannya.

Begitu loh…jadi, tulung deh setop jangan mengedepankan uangnya mulu. Kasihan yang baru pada mulai. Mereka ingin berkembang tapi akhirnya minder. Karena ada yang mulai tapi gak dibayar pake duit.

Dih! Ada kan ceritanya tuh band terkenal yang justru dia saat tampil di acara 17 Agustusan cuma dikasih kotak snack tiap personilnya. Duitnya kagak ada! Tapi sekarang sekali manggung duit ratusan juta pun dapat!

Ketika Istri Turun Tangan Jadi Tukang Kayu

(Peralatan yang saya pakai masih sebatas ini belum berani pegang mesin)

Saya memang nggak pernah mengira kalau ternyata mebel milik kita berdua penuh dengan orderan. Mulai dari kita kerjasama dengan salah satu tempat servis jok, sampai pesanan paddle Tonnis yang tidak ada hentinya.

“Bersyukur? Tentu saja. Tapi akibatnya suami kewalahan juga.”

Sudah nyaris tumbang dia ditambah bor ngambek sampe berasep. Hadeh…! Mau beli sementara dikejar sama pesenan terus menerus. Iya gerakan dirumah aja pada akhirnya buat orang-orang mengalihkan segala aktifitasnya menjadi di rumah. Tak terkecuali urusan olah raga.

“Dibutuhkan tangan ajaib seorang Istri….”

Pada dasarnya pekerjaan rumah saya tak terlalu banyak karena urusan memasak sudah dipegang anak-anak. Sekedar menyapu, mengepel sampai cuci piring. Itu pun menyapu lantai dan mengepel terkadang ditangani sama anak-anak. Praktis pekerjaan saya cuma nulis dan tidur-tiduran di kamar. Tapi kan nggak enak.

“Saya terbiasa bekerja yang mengandalkan fisik.”

Kalau mengandalkan full otak maap ye agak lemot juga disuruh mikir kenceng. Jadilah saya bantu suami ngebut pesenan Paddle Tonnis biar nggak pusing terima WA melulu ditanya sudah berapa paddle yang jadi? Pekerjaan tukang kayu hanya buat laki-laki? Kata siapa?

Beberapa tukang kayu yang sudah menikah pun ada yang dibantu sama istrinya. Entah istrinya yang nekat bantu, maupun memang diminta buat bantuin. Sejujurnya suami nggak menyuruh saya buat bantu tapi saya yang menawarkan diri. Tentu bukan yang pegang mesin ya karena itu susah. Selain harus fokus, menahan bahan yang mau dipotong, juga harus kuat menahan getaran mesinnya. Salah mengoperasikan bisa dua hal yang akan terjadi : Jari saya terpotong atau potongan bahan tidak sesuai pola.

Memang nggak heran kalau seorang tukang kayu setidaknya butuh satu orang partner yang bisa diajak fokus. Partner dalam bentuk benda seperti kopi dan rokok maupun orang lain. Nah, ini sedang puasa yes! Ya, kopi dan rokoknya di geser saat sahur dan berbuka. Kalau lagi nggak konsen, baiknya istirahat dulu daripada tangan jadi korbannya.

“Bahaya lho!”

Tergantung pekerjaan apa yang kita lakukan dulu. Sekedar memasang paku rasanya nggak terlalu berbahaya. Kegiatan mengamplas maupun dempul (memperbaiki permukaan yang bolong) pun tak masalah. Kecuali memang kita sudah terlatih menggunakan mesin ya lakukan aja!

Hasilnya adalah…tangan saya pegel semua! Tapi seneng juga karena ditengah suami yang tetiba mules saat mau mengerjakan bisa cepet dengan adanya saya. Nyesel nggak? Kalo dapet duitnya kayaknya kagak bakalan nyesel hahaha….

Olah Raga Di Rumah Aja!

Gegara WFH ini jadilah banyak tempat fasilitas olah raga termasuk GYM pun tutup. Ya, gimana lagi kan ikutin anjuran pemerintah. Ada yang ngeluh susah mau olah raga tapi ada yang tetap berolah raga di rumah. Bahkan buat jomblo pun tetap bisa berolah raga dengan BBM.

“Apaan tuh BBM?”

Bukan singkatannya Bahan Bakar Minyak ya. Tapi ini singkatan dari Back Ball Match alias Jowo ne Bolak Balik Maning. Iya, soalnya bolanya kalo dipukul bakalan bolak balik maning meski gak ada lawannya soalnya ada karet pemantulnya.

“Tuh kan makanya cocok buat olah raga di rumah dan gak harus ada lawannya.”

Jangan khawatir sama bolanya. Meski mantulnya bisa lumayan keras. Tapi bola ini lebih empuk ketimbang bola Tennis. Paling bikin kaget aja kalo kena. Yaah…makanya jangan sampe kena dong! Mainnya juga di luar rumah kan sepi kalo pas kaya’ gini. Kalo nekat main di dalam rumah saya gak mau tanggung jawab! Apalagi sampai TV anda rusak!

Saya pun pernah mencoba olah raga ini pas masih CFD an boleh dilakukan. Wah, bikin penasaran dan keringatan tentunya. Eh, buat ibuk ibuk yang pengen langsing singset coba deh main BBM. Sehatnya dapat langsingnya pun dapat.

“Olah raga ini ramah untuk anak-anak.”

Biasanya saat kita olah raga, pasti anak-anak pengen ikutan. Nggak perlu dilarang, bahkan anak-anak bisa ikutan. Tentunya tetap dalam pengawasan orang tua ya. Soalnya bahaya juga kalau yang dipukul malah yang laen bukan bolanya hahaha.

“Bisa pilih Paddle dari Kayu atau Multiplek.”

Beda kualitas beda juga harganya. Buat sekedar main aja pilih paket pembelian dengan paddle dari Multiplek. Lebih ringan dan cocok buat pemula. Mau yang lebih awet? Pilih paddle dari bahan kayu. Lebih awet dan cocok buat yang udah biasa main Tennis. Pasti lebih menantang!

“Paddle pemukulnya nggak bikin bosen! Bahkan ada yang karakter khusus.”

Iya, bisa pilih dengan cat warna menarik atau yang biasa. Beda harga tentu saja! Tapi bisa jadi ciri khas lho sebab nggak semua orang punya paddle dengan gambar menarik! Bahkan ada gambar edisi terbatas ala Spiderman. Sayangnya paddle edisi ini sedang habis dan on process ya! Sebab ada yang minta custom gambarnya.

(Salah satu paddle yang bisa dipesan)

Nah lho masih beralasan nggak bisa olah raga meski di rumah aja? Sekarang bisa olah raga dan tetap bisa pamer dengan aneka paddle warna warni bercat unik. Paket peralatan Tonnis dan BBM bisa dipesan disini ya :

https://www.tokopedia.com/archive-tigasurya

https://seller.shopee.co.id/portal/settings/shop/profile

Mau dapat info seputar peralatan BBM dan Tonnis bisa kemari :

https://www.instagram.com/tonisoffical/