5 Hal yang Harus Diperhatikan oleh Konsumen Mebel

Mama Indri selaku istri dari seorang tukang kayu sudah cukup miris mendengar keluhan dari beberapa orang yang merasa atau bahkan benar-benar “ditipu” oleh seorang tukang kayu. Bahkan Mama Indri pernah kena semprot gegara masalah pekerjaan salah satu konsumen kok nggak segera dikerjakan eh malah mengerjakan pekerjaan yang lain.

“Loh! Kok bisa?!”

Nah, ini dia nih. Kami berdua yang sangat hati-hati dalam mengerjakan setiap project yang ada saja masih bisa disemprot. Bagaimana yang kerjanya ngaco bin sembrawut dan amburadul? Apa mau dituntut ke jalur hukum tuh karena dianggap sudah menipu konsumen?

“Konsumen adalah RAJA.”

Yes! Betul sekali! Tetapi Raja akan nampak bodoh kalau langsung main ba bi bu tanpa adanya aturan. Kesalahan bisa terjadi pada siapa saja. Bisa pada tukang kayunya dan bisa juga pada konsumennya. Untuk itu, Mama Indri bagikan tips buat kalian yang first time alias pertama kali banget nget mau pakai jasa tukang kayu.

Gambar hanya ilustrasi saja

1. Cari Informasi Tentang Harga

Google adalah sarana paling mudah dalam mencari informasi yang kita butuhkan. Belum lagi ada Youtube kan? Nah, manfaatkan keduanya. Kita bisa cari misal dengan kata kunci “berapa biaya servis jok sofa?” Maka akan keluar banyak hasilnya tinggal kita pilih mana yang relevan.

Cara ini terbilang ampuh daripada kita harus satu-satu datengin tukang kayunya. Ya bisa sih kalau mau berpanas dan bercapek-capek ria. Harga yang sudah kita ketahui dulu akan membuat kita bisa menghindar dari permainan harga yang dibuat oleh tukang kayu.

Tapi juga kalau sudah tahu harga terus jangan main hantam pake acara minta potongan harga yaa….

2. Lihat Barang Apa yang Mau Dipesan

Apakah ini remake alias servis?
Atau apakah ini buat baru?

Beberapa tukang kayu ada yang memiliki spesialisasi tertentu. Misal hanya bisa buat pintu, kursi, jendela ya jangan paksa suruh buat lemari. Nanti bentuk lemarinya aneh! Kalaupun bagus paling dia lempar ke temennya yang lain sesama tukang kayu spesialis bikin lemari. Lalu kita kena harga dua kali lipat. Kecuali tukang kayu yang bisa all in one ya nggak masalah.

Ingat! Remake dengan buat baru beda jauh. Ada tukang kayu yang pandai membuat remake jadi nampak baru. Ada juga yang nggak bisa alias bisanya buat baru. Ini tanya yang detail ya atau kalau ragu berikan project kecil dulu untuk tes hasilnya. Kalau oke, silahkan lanjut ke project besar.

3. Tentukan Sendiri Berapa Lama Barang Kita Harus Jadi

Setiap konsumen punya batas waktunya masing-masing. Batas paling simpel misalnya, seminggu sebelum lebaran harus sudah jadi. Ini juga harus ditanyakan ke tukang kayunya ya. Sanggup atau tidak?

Beberapa tukang kayu ada yang main terima orderan tanpa melihat batas kemampuan. Ini yang bikin pesanan kita berasa nggak dikerjakan. Bisa juga kita lihat apakah si tukang kayu punya asisten yang bisa membantunya? atau asistennya ya istrinya sendiri hehe seperti saya. Ini juga bisa jadi patokan apakah estimasi waktu yang diberikan oleh tukang kayunya wajar apa nggak?

Ada kok kejadian dimana asistennya banyak bisa sampai 3 orang. Tapi kok kerjaan nggak kelar ya! Oh, ini tidak banyak yang tahu ya. Kerjaan asisten itu sebenarnya hal yang ringan misal memberikan lem ke bagian tertentu, memotong oscar untuk jok kursi, dll. Intinya pekerjaan yang diminta oleh si tukang kayu. Yaa otak pelakunya eeh utamanya ada di tukang kayunya. Kecuali di satu mebel itu ada dua tukang kayu nah baru bisa cepat. Wuzzzzz…!

4. Lihat Apakah Ada Orderan Milik Orang Lain atau Tidak

Ini sih kalau bisa dilakukan secara rahasia. Cukup dilihat area mebelnya atau ajak tukang kayunya ngobrol yang arahnya ke “apakah ada orderan orang lain selain punya saya atau tidak.” Kok gini amat ya!

Kalau kita mau cepet dan nggak mau kecewa ya cara ini bisa kita lakukan. Tukangnya lagi banyak orderan bahkan lagi ngerjakan project orang lain nggak mungkin juga kita bilang “pak, bisa nggak kerjakan punya saya dulu. Kalau bisa besok jadi.” Yaah…emang cetak foto berasa sejam jadi?

Daripada kita kayak detektif tanya detail ke tukang kayunya, udah gitu pengen cepet. Kenapa nggak kita cari tukang kayu lainnya? Kan yang sepi siapa tahu bisa lebih cepat. Tapi ingat yaa… jangan lupa lakukan point no 5.

5. Cek Kualitas Tukang Kayunya

Tanya ke saudara, temen, ortu siapa aja deh di tempat ini mana yang paling recommended tukang kayunya. Memang kalau tanya ke banyak orang bakalan pusing sebab mereka punya tukang kayu andalan masing-masing. Tapi cobalah tanya ke satu orang lalu datangi dimana tempatnya. Perhatikan sekitar mebelnya apakah?

“Ada beberapa orderan dan tukangnya sibuk bener?”
“Sepi cuma sisa serutan kayu atau beberapa tumpuk kayu dan tukangnya lagi ngopi?”
“Cuma ada satu orderan dan tukangnya lagi kerja?”

Selain itu jangan lupa untuk tanya beberapa hal ke tukang kayunya. Termasuk soal kesanggupan dalam mengerjakan satu project dan estimasi biayanya.

Saran saya, jika butuh cepat maka pilihlah tukang kayu dengan satu orderan dan dia lagi kerja. Ini tandanya dia bisa lebih cepat buat mengerjakan pesanan kita. Daripada yang udah satu kerjaan eeh tukangnya santai doang. Kecuali pas dia lagi istirahat. Tapi pilih saat tukangnya sibuk banyak orderan dan lagi mengerjakan orderan lainnya ya nggak masalah.

Sangat saya sarankan juga untuk kalian yang baru pertama kali pakai jasa tukang kayu, jika masih ragu maka datangi. Ya, tidak harus setiap hari nanti dikira kita ngefans sama tukangnya. Misal seminggu dua kali sudah cukup untuk project yang bersifat lama.

Oke, cukup sekian ya! Tunggu tulisan Mama Indri tentang pertukang kayuan lainnya.

Sebelum Kasih, Cek Dulu!

Enggak tahu kenapa momen idul fitri saya penuh dengan keabsurdan. Oke deh, tahun kemarin masih bisa menerima. Tetapi untuk tahun ini…phew!

“Ada apa lagi sih Mama Indri ini?”

Oke, sebagai manusia jaman sekarang yang pastinya udah mengenal hidup minimalis pasti pengen melakukan. Kita berusaha membersihkan barang yang tidak perlu dan mana yang masih disimpan. Cara seperti ini tidak akan buat kita bingung karena punya buanyak barang di lemari bahkan bisa bikin sarang kecoak (dan saya benci dia kalo pas terbang).

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menyingkirkan barang tersebut.

  1. Kasih ke orang lain bahkan temen
  2. Sumbangkan ke panti asuhan atau panti jompo
  3. Jual sebagai barang Preloved
  4. Buang atau Bakar

Nomer satu yang biasanya kita lakukan kalau lihat suatu benda yang masih bagus. Tentunya kita akan bilang dulu ke penerimanya. Dia mau apa nggak? Seperti “eh, gue punya tas nih dah lama gak pake tapi kayaknya masih ok. Mau nggak? kalau mau gue cek dulu.”

“Yes!! Cek sebelum kamu kasih ke siapapun.”

Pengalaman Mama Indri yang rasanya habis dipukul telak. Lantaran saat acara kumpul keluarga dibilang dikasih tas, sepatu dan baju. Hati siapa yang nggak senang? Sampai pulang ke rumah daaan… saya cukup kaget melihat tas tergeletak di atas kursi tamu. Saya pikir inilah barang yang dikasihkan. Lalu tanya ke anak-anak ya mereka dikasih kok sepatu dan baju. Lihat sekilas ukuran dan kondisi masih layak. Aman!

“Tapi saat lihat tas itu….”

Duh, bisa dibilang nggak banget. Meski itu bukan selera saya iya sih masih bisa menerima. Minimalnya akan saya pakai sekali dan berterima kasih banget. Selera saya adalah tas model samping atau ransel dengan penutup tali dan ini model ala Jepang kali ya. Udah, diluar itu bukan selera saya.

“Meski begitu Mama Indri akan tetap menghargai pemberian orang.”

Tapi tas ini sangat berbeda sekali. Dengan kulit imitasi yang sudah kusam dan warna memudar. Eh, ternyata didalamnya ada satu tas lagi dengan kondisi parah luar biasa dengan kulit imitasi koyak sana sini. Saya nggak mau foto deh karena pastinya siapapun yang menerima ini hatinya juga akan hancur. Jangan tanya siapa yang kasih jelasnya ini masih saudara kok. Saya masih berusaha menerima tas ini tapi saat pegangan tas nya diangkat dan…whooaah! Rupanya pegangan tasnya pun lapuk dan lepas. Hm… oke masih bisa di lem eeh tasnya jatuh rupanya dua pegangannya memang sudah nggak kuat.

“Terus bijimane pakenya??!”

Dih sabar…sabaaaaaar Mama Indri. Dari sini saya sebenarnya cukup kecewa loh. Masa’ iya sih mau kasih orang enggak dilihat dulu barangnya? Dulu mama saya mengajarkan sebelum kasih barang ke orang cek dulu aman nggak? Ada tempelan harga nggak? Barangnya meski masih di dalam plastik looking good kah? Soalnya pernah ada kejadian sudah dikasih dan saat dibuka rupanya cara penjual membungkus ke dalam plastik rapi banget. Sekilas nampak bagus padahal enggak. Sampai yang nerima barang malah jadi uring2an.

Satu pembelajaran berharga buat saya. Kalau memang ini barang preloved alias bekas harus cek dulu. Masih layak atau tidak untuk diberikan ke orang lain?

Donat Ultah Indri

Indri adalah anak tiri bontot saya.
Itulah kenapa nama saya di blog adalah Mama Indri. Sekaligus nama panggilan di antara tetangga pas di Bengkulu. Karena disana tidak terbiasa dengan panggilan Bu (nama suami) tetapi biasa dengan sebutan Mak (nama anaknya) atau Mama (nama anaknya).


Memang kalau ayahnya lebih dikenal dengan panggilan Bak Fath atau Ayah Fath. Karena Fath anak tiri pertama saya yang dulu suka main. Entah kenapa semakin kesini dia lebih suka di kamar dan lebih banyak Indri yang main sama anak tetangga lainnya. Jadinya saat ayahnya nikah sama saya tahunya tetangga saya ya Mama Indri.


“Jadi ceritanya Indri ultah tepat tanggal 14 april kemarin.”


Cuma satu masalahnya. Baik saya maupun ayahnya lagi bokek. Beneran bokek dan kebetulan masih ada satu kerjaan di rumah pelanggan. Harapan kita berdua cuma satu : Dapat Duit dan Bisa Belikan Indri Kejutan Untuk Ulang Tahunnya.


Indri suka makanan yang manis. Berbeda jauh dengan Orang Sumatera biasanya yang suka pedas maupun kedua kakaknya. Memang tantangan buat kita berdua sebab harga kue tart terlalu mahal. Kue Bolu dia tidak terlalu suka tapi suka sama donat yang ada coklatnya.


“Butuh perjuangan kan buat dapetin duit.”


Saya ikutan bantu suami pas di rumah pelanggan. Lumayan bisa langsung bayaran dan segera kita cari toko kue yang jual donat juga. Saya ingat memang ada toko khusus jual donat yang pakai glazing dengan toping menarik. Harga satu dusnya sih 20 ribu dapat 6 biji. Tapi ayahnya pingin biar donatnya bisa ada tulisan “Selamat Ulang Tahun”.


“Akhirnya sampai di toko yang dituju. Eh, tapi kok donatnya polosan semua?”


Pelayannya langsung mendatangi saya yang kebingungan. Dia menawarkan mau donat dengan glazing varian apa? Phew!! Ada belasan varian seperti : Coklat, Taro, Vanilla, Strawberry, Blueberry, Tiramisu, dan lainnya saya nggak hapal. Saya juga menanyakan bisa request tulisan nggak?


“Bisa, tapi tambah 3 ribu.”


Wah, oke deh! Nggak masalah kalau cuma nambah 3 ribu perak. Jujur ini donat dengan request yang harganya murah amir. Pelayan toko meminta saya menunggu sebentar dan dia mulai berkreasi dengan rasa glazing yang sudah dipesan. Hasilnya? Memuaskan kok menurut saya. Nggak lebay dan cute desainnya. Pas banget buat anak cewek.


Saya kurang tahu ya kalau di kota lain ada apa nggak. Jelasnya di Semarang namanya D’fresco. Donatnya lembut dan standar jadi enak dimakannya.

Remake Mebel Tak Semudah Membalikkan Tangan

Nah, kali ini Meubel Bintang Furnitama dapat pelanggan baru. Dia minta remake mebel lama punya neneknya dulu. Menurutnya perabot mebel yang ada masih bisa dipakai. Hanya nampak kotor dan kuno saja.


“Bukan hal baru buat kami untuk remake mebel tapi asli ini parah.”


Setidaknya harus mau membersihkan, menyingkirkan benda yang ada disana, baru mulai proses remake-nya. Itulah yang saya lakukan bareng suami. Ini jenis buffet yang saya cuci dulu sampai bersih. Baru setelahnya melalui proses cat dan melamik.


Oh ya, tidak semuanya dicuci. Kalau kursi tamu tentu saja tidak. Hanya perlu ganti karet bagian bawahnya, tambah busa supaya lebih empuk saat diduduki, dan tentunya ganti kain joknya. Untuk pegangan kursinya, kebetulan si pemiliknya request warna biar nampak segar. Salak Brown jadi pilihan untuk melengkapi warna kursi tamu. Hasilnya cek nanti di bagian akhir postingan ya.


“Memang nggak mudah apalagi ini kursi kuno.”


Tentu si pemilik ingin warna yang fresh dilihat mata. Antiknya masih dapat tapi tidak kusam warnanya. Melamik punya peran penting di remake kali ini untuk mengkilapkan hasil akhirnya.


“Hal yang paling rumit tentu saja menghilangkan HPL-nya.”


Kalau belum tahu HPL itu apa ya itu sejenis tempelan yang direkatkan ke mebel. Biasanya memang digunakan untuk menutupi sebagian atau seluruh bagian mebel. Sekilas menipu sebab motif HPL luar biasa mirip kayu atau motif lainnya pun ada. Seolah itu di cat padahal hanya tempelan. Memang praktis tapi akan nampak kalau sudah bertahun-tahun. HPL akan mengelupas karena lemnya sudah tidak rekat lagi. Mebel jadi jelek bahkan nampak kalau sebenarnya tidak utuh 100% kayu. Melainkan ada bahan lain seperti bubur kayu yang dipadatkan, triplek atau plywood, atau bahan recycle lainnya dari kayu.


Mau ikutan remake mebel kuno juga?
Langsung datang ke :
Meubel Bintang Furnitama
Jl. Plamongansari V RT 01 RW 09 Kelurahan Plamongansari Kecamatan Pedurungan Kota Semarang, Jawa Tengah.


Ini dia hasil dari remake ala Meubel Bintang Furnitama :

Hidup Butuh Skill Bukan Ranking

Kesalahan yang banyak diterapkan hingga akhirnya kita lupa bahwa hidup itu butuh skill bukan ranking. Nah, termasuk kesalahan saya juga nih.

“Memang dari orang tua didikannya untuk terus mengejar ranking di kelas semasa sekolah.”

Nggak salah sih… ini bagus juga! Tetapi jangka panjangnya harus kita pikirkan. Apakah dengan belajar tekun terus kita mau jadi seorang guru? Jadi dosen? atau tenaga pengajar lainnya termasuk jadi Ilmuwan wah ini nggak masalah.

“Tapi kalau nggak bisa berbuahahahayaaa…!”

Saya pernah mendengar satu cerita dari dosen saya yang saat itu pernah naik satu becak di Kota Semarang. Tukang becaknya ternyata adalah lulusan sarjana. Soal nilai duh jangan ditanya deh. Tapi kemanapun melamar pekerjaan jadi guru, dia selalu ditolak. Malu sama keluarga di kampung dan akhirnya dia jadi tukang becak di Kota Semarang. Apa penyebabnya?

“Dia boleh jadi sarjana, pinter, tapi skill untuk jadi guru nggak ada.”

Memang apa sih skill buat jadi guru?

  1. PeDe (Wajib dong gak ada guru pemalu apalagi sampe tangan gemeter pas lagi ngajar kecuali tremor)
  2. Menguasai materi pelajaran yang dikuasainya.
  3. Mau belajar pengetahuan terbaru
  4. Bisa memahami bagaimana setiap murid di kelas yang diajarkannya.

Yaa parah kalo gurunya tau ada murid nggak bisa melulu terus dikatain “Kamu kok bodoh ya!”. Bisa diarak warga keliling kampung noh hihihi….

Kemauan untuk belajar pengetahuan yang baru ya wajib dong! Ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Teringat akan cerita suami pas masa sekolah di MAN dulu. Guru sejarahnya sesuai kok menerangkan yang udah ada di buku. Tapi ada satu yang nggak ada di buku saat itu “kenapa ada jalur yang dinamakan jalur sutra?”. Pertanyaan yang simpel banget sayangnya saat itu belum ada google yak! Eeh malah jadi drama sampe si guru nangis lah minta pembelaan ke guru yang lain dan berujung nggak mau mengajar.

“Jadi, sampai sini udah paham kan?”

Yes meski kelihatannya melatih keterampilan akan dianggap “sia-sia” oleh orang disekitar kita. Tapi saat kita beneran nih jadi orang lihatlah bagaimana reaksi mereka. Kalau malah mendekat demi dapetin duit yee maaf kata ya haha.

Oke, cukup sekian tulisan kali ini terima kasih udah baca cuap-cuapnya Mama Indri melalui tulisan.

Terjebak Dalam WAG Keluarga

Bagi yang belum tahu WAG itu singkatan dari Whatsapp Grup. Oke saya mau menuliskan tentang keresahan saya sebagai emak-emak milenial. Terlebih sekarang kita tahu ya ada UU ITE yang bisa menjerat siapapun bagi pelanggarnya. Termasuk kita… iya KITA!

“Keresahan saya ada pada banyak hal.”

Itu sebabnya saya cukup hati-hati dalam menuliskan sesuatu ke dalam WAG Keluarga. Bahkan kalau perlu lebih baik jadi penonton. Salah sedikit bisa menyebabkan saya di sleding sama salah satu anggota keluarga. Termasuk urusan bercanda. Sensitif banget ya! Niat bercanda berujung bermusuhan. Itu yang saya nggak suka dari WAG Keluarga.

“Udah begitu suka ada WAG turunannya lagi!”

OMG! Ini yang bikin aplikasi Whatsapp saya nggak berjalan maksimal. Hampir setiap detik bunyi “kluntingan” notifikasi dari grup masuk. Bikin pening karena cukup mengganggu aktifitas saya. Terpaksa di mute sejenak kalau dirasa terlalu mengganggu. Dari grup keluarga turun ke grup keponakan/cucu sampe akhirnya ke grup barisan sakit hati dan grup tandingan. Bayangkan betapa banyaknya cobaaa! Mana hape saya masih Ram 2Gb Rom 16Gb pula…! Duh pliss! Se-penting itukah?

“Kemudahan dalam bersosialisasi lewat dunia maya menciptakan dunia baru sekaligus bahaya didalamnya.”

Kita tidak menemukan “Mereka” yang sebenarnya. Namun menemukan copy-an dari “Mereka” yang nggak mirip bahkan FAKE. Bayangkan di dunia nyata saja terkadang kita dan anggota keluarga besar lainnya nampak baik-baik saja tapi di belakang sesungguhnya malah menusuk. Nah, apalagi jika mereka berada di dunia maya? Beruntung dan bersyukurlah buat kalian yang keluarga besarnya baik banget dan nggak palsu di depan asli di belakang. Lalu bahayanya dimana?

“Terlalu sensitif!!!”

Namanya keluarga loh meski di WAG tentu kita mau biasa aja bahkan lepas deh apalagi soal bercandaan. Ya, tentunya masih dalam batas kesopanan bukan panggil Om dengan sebutan hewan bisa ditenggelamkan ya! Maksudnya biar sedikit “luwes”. Tetapi justru yang terjadi kita kadang ditegur gegara bercandaan yang rasanya udah sesuai baku banget bahasanya. Biasanya yang masih muda nih yang kenaaa. Hayoo…ngaku nggak?

“Bahkan terlalu protokoler banget!”

Entah kenapa saya sih merasa begitu (maaf Mama Indri lagi baperr uhuy!). Biasanya terjadi pada saudara yang lebih tua atau yang lebih kaya harus kita hormati kita “iya-kan” segala perkataannya sampai harus kasih 10 jempol eh saya cuma 4 itu sudah termasuk jempol kaki. Mereka bercanda yang garing tapi kita musti ketik “hahaha” atau “wkwk” atau emot orang ngakak. Padahal kalau mereka ikut seleksi Komika udah tersingkir duluan sih. Soalnya kalau kita nggak bikin dia seneng bisa ditandai. Mati nggak lu! Minimalnya dihapus dari daftar keluarga besar.

“Saya dan suami malah lebih nyaman nggak dianggap.”

Nah parah lagi tuh suami. Lebih suka biasa aja daripada dianggap jadi anggota keluarga besar tapi musti protokoler buanget. Bukannya kami tak suka memiliki keluarga ya. Bahkan kami saat masih di Kota Bengkulu dekat dengan orang-orang yang bukan saudara. Namun kami anggap saudara sendiri karena kedekatannya begitu luar biasa.

Sebelum menutup tulisan unek-unek ini, saya cuma mau bilang :

Stay Safe, Stay Healthy, dan Salam WARAS!

Step By Step Pembuatan Buffet Aquarium

Tetiba ada WA masuk nih!

“Mbak bisa buatin lemari buat Aquarium kayak gini?”

Tiba-tiba masuk WA saat siang hari entah dari siapa. Saya pikir beneran orang lain. Tapi ternyata masih saudara sendiri juga dan dia ganti no hp. Yaelah… udah seneng bingit kalau orang lain (kalau saudara ya seneng kok kan dapet cuan). Saya tunjukkan gambar itu ke Bang Zain suami saya.

“Iya, bisa.”
“Dia tanya berapa Bang harganya?”
“Udah kasih tiiit (sensor) aja.”
“Bang, dia nawar.”
“Boleh deh asal jangan sadis bener.”

Akhirnya DEAL pesanan buffet aquarium. Suami kerjakan sesuai dengan gambar. Selama requestnya nggak aneh-aneh masih kita kerjakan. Nah, ada ya harga ratusan ribu udah dapet buffet aquarium plus di cat? Itulah uniknya di tempat kami hehe.

“Tentu tahap pertama kita beli multiplek yang ukuran 15mm.”

Bahan multiplek 15mm sudah tebal bahkan mau diduduki orang dewasa pun bisa. Itulah sebabnya kami pilih bahan itu sebagai bahan dasarnya. Setelah di potong sesuai pola baru di rangkai. Oh ya karena ini untuk buffet aquarium yang aquascape itu lho tentu butuh tangki oksigen eh tangki apa itu haha…. Jadi dibuat lubang di bagian belakangnya.

“Mbak bagian samping dibikin bolong biar enak pas angkatnya.”

Dua sisi di bagian kanan dan kiri dilubangi. Buat mudah pas diangkat. Dia takut kalau ini berat padahal nggak loh. Ringan malahan (sudah saya tes angkat soalnya). Lalu pintunya dibuat model tik tak (yang kalau dibuka bisa bunyi tik dan tak). Itu lebih hemat daripada harus dipasang kunci. Btw, ini buffet aquarium jelas lah gak bakalan buat nyimpen foto mantan eh nyimpen benda berharga maksudnya.

“Sentuhan terakhir di cat.”

Biar cepet kita pakai cat duco. Selain cepat, warnanya merata dan nggak ada bekas kuas. Eh, kok bisa nampak mengkilat? Ada rahasianya dong. Hanya para tukang cat dan tukang kayu yang tahu hehe. Setelah jadi saya dan suami yang antar sekalian antar pesanan paddle (kalau belum tahu paddle itu apa lihat postingan saya tentang Tonis ya).

Merasakan naik roda tiga-nya Viar sambil jagain tuh buffet biar tetap berada di posisinya. Meski udah diikat pakai tali tapi harus tetap dijagain biar nggak pindah ke lain hati eh pindah kemana-mana.

Siap berangkaaat!

Mau pesen juga?
Masih area Kota Semarang dan sekitarnya?
Langsung cuzz kesini aja sst… kita udah berganti nama lho.

Meubel Bintang Furnitama
Jl. Plamongan Sari V RT 01 RW 09 Kel. Plamomgansari Kec. Pedurungan Kota Semarang, Jawa Tengah.

Tanya dulu boleh yess gratis kok!
WA : 089530937382 atau 085768202719

Bonus foto step by step nya yaa…

Ngobrol Kopi : Perihal Rumah Berantakan

Ngopi dulu biar pikiran cling

“Bagaimana menurut abang seputar kinerjaku selama menjadi istri abang?”

Pertanyaan itu mengawali pagi hari ini sembari menunggu kopinya dingin. Rasanya aneh tapi ya saya yang dulunya biasa kerja kantoran dan beberapa kali kena evaluasi dari kantor. Jangan ditanya hasilnya, pasti nggak pernah memuaskan menurut kantor dimana saya bekerja. Memang cara kerja saya cukup jelek!

Tetapi saya bahagia ketika beralih profesi menjadi ibu rumah tangga. Entah kenapa aneh ya rasanya. Yah… tapi itulah saya. Tentunya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan kali ini lebih berusaha. Untuk apa? Menjadi seorang ibu rumah tangga yang profesional. Eh, tapi belum punya anak sendiri ya konon katanya nggak pantas disebut ibu kalau belum pernah tahu namanya melahirkan. Halah!

“Ya… menurut Sayang sendiri bagaimana?”

Lho malah ditanya balik nih. Ternyata menurut suami sih saya baik-baik saja. Tidak ada yang WOW banget. Meski iya sih urusan masak memasak sekarang di handle sama anak gadis. Tapi kan saya tetap punya kerjaan lain. Bukan 100% pengangguran. Tetapi urusan kebersihan tentu masih urusan saya.

Sampah sampaaaaah

Rumah rasa kapal pecah hampir setiap hari. Bukannya tidak dibersihkan tapi sudah dibersihkan dan tau tau… BRUK! Setumpuk cucian piring yang bekas orang pesta nikahan kali ya datang begitu saja. Eh, padahal disini cuma 5 orang. Seberapa sih pemakaian peralatan makan untuk 5 orang?

“Ya soalnya kena tegur dari Mama bang kalau rumah musti dibersihkan.”
“Karena Mama nggak lihat kan kalau rumah sebetulnya sudah dibersihkan.”

Mungkin lebih tepatnya “sialnya” datang di saat rumah saya masih berantakan. Saat rumah bersih malah nggak ada tamu. Sampah nemplok entah dimana yang seringnya sudah saya ambil tapi nongol lagi. Sampai tempat sampah ada tiga biji tapi yaah… kalau tempat sampahnya penuh otomatis terbuang di mana saja. Kadang nyelip diantara piring kotor kadang dibawah kolong meja ruang tamu.

“Sayang sudah berusaha….”

Beruntungnya saya punya suami yang seperti ini. Tidak memarahi saya atas kekacauan di rumah. Karena memang kondisi begini sudah biasa terjadi. Memang saya bukan wonder woman yang bisa bikin rumah cling setiap saat. Rumah berantakan bukan kesalahan setiap penghuninya. Terkadang karena suatu kondisi yang mengakibatkan rumah nampak jorok. “Sialnya” didatangi saat kondisi jorok bukan saat kondisi bersih. Mau tak mau kita musti pasang muka tembok.

Obrolan saya akhiri dengan mencuci setumpuk piring di tempat cucian.

Apaan Tuh Ngerokok Linting?

Rasanya saya malas buat membahas tentang suami saya yang sudah merokok sejak jaman dinosaurus ada! Eh, bukan maksudnya sejak dia masih TK. Saya yang awalnya kesel karena duit lari aja ke rokok ya akhirnya menyerah deh membiarkan dia beli rokok. Itu yang bisa buat dia bahagia. Konon, katanya melarang kesukaan seseorang malah berujung orang itu sakit.

“Daripada suami sakit gegara dilarang merokok kan yee mending biarin aja.”

Sampai suatu ketika dia bercerita bahwa dulu lebih suka ngerokok linting daripada ngerokok produk pabrikan. Perasaan nggak ada bedanya yah. Sama-sama rokok tuh…! Ehehe ternyata ada dong. Begini kata suami saya (bukan kata saya kalau salah ya salahin suami saya ahahaha kagak mau disalahan nih Mama Indri) rokok linting itu tembakau asli nggak dicampur bahan kimia berbahaya. Sekalinya ada pun ya hanya murni untuk aromanya saja.

“Saya bukan perokok jadi masih nggak percaya sama perkataan suami soal rokok linting yang lebih sehat dari rokok pabrikan.”

Apalagi di pertengahan tahun 2020 ini, entah kenapa rokok linting kembali menjamur. Harganya juga terjangkau bahkan bukan hanya orang tua, anak muda ada kok yang mencoba. Setidaknya di dekat tempat tinggal saya ada dua penjual tembakau racik untuk rokok linting. Biasanya mereka menjual aneka macam rasa tembakau. Jika di rokok pabrikan kita kenal rokok kretek dan filter, maka berbeda dengan tembakau racik. Ada yang kasar dan ada yang lebih halus. Belum lagi ada yang khas seperti tembakau dari Aceh (kata si penjualnya). Setiap tembakau racik punya ciri khasnya.

“Tapi nggak bisa melinting nih!”

Jangan khawatir, beberapa penjual tembakau racik ada yang menjual alat linting sederhana. Harganya dibawah 10 ribu loh (untuk area Semarang). Termasuk filternya juga (bentuknya yang busa silinder yang biasa ada di rokok itu loh) dan kertas lintingnya. Kertas lintingnya murah meriah. Nah tembakau raciknya bervariasi mulai dari harga 6-7 ribuan deh. Lupa yang paling mahal itu berapa.

“Saya nggak kasih promosi biar pada beli lho… tulisan ini hanya sekedar menyajikan pengalaman suami merokok linting.”

Iyess saya nggak lagi promosi. Bisa diserbu rumah saya gegara tulisan ini. Bagi yang tidak mau dan tidak setuju dengan rokok apapun ya silahkan. Tidak usah dibaca. Jika berminat ya beli sendiri enak ajee gratis dari saya ahahahaha….

Nb : Nggak ada gambar soalnya tembakau lintingnya gak boleh difoto sama suami.

Kerak Membandel, Basmi dengan Citrun

Setengahnya iklan juga sih postingan kali ini. Sebab Citrun yang dimaksud pun nama sebuah produk asam sitrat. Lebih tepatnya di Semarang ini orang mengenalnya dengan nama Citrun dan penampakannya seperti dibawah ini.

Entah apa penyebutannya di daerah lain.

Produk ini biasanya digunakan dalam minuman ya. Ternyata kegunaannya banyak salah satunya buat bersihkan kerak di ember. Sayangnya saat masih berkerak tebal embernya belum saya foto jadi tidak bisa dibuat perbandingan. Benar-benar tebal sampai risih kalau mau pakai air yang tertampung didalamnya. Padahal airnya bersih lhoo….

“Caranya gimana sih?”

Pastikan ember berkerak yang mau dibersihkan sudah disingkirkan dulu ya. Supaya tidak dipakai. Isi air sampai batas kerak terendam. Kalau seperti ember punya saya ya penuh deh. Masukkan satu bungkus asam sitrat atau citrun. Tunggu beberapa jam lebih baik lagi kalau ditunggu selama semalaman. Baru besok paginya di gosok. Gara-gara saya nggak sabar hasilnya kerak malah saya tarik pake jari. Bisa sih rontok tapi korbannya kulit mengelupas.

Itu sudah tertutup lukanya, aslinya sih perih.

Memang harus sabar nunggu supaya keraknya mudah dibersihkan. Itulah kenapa saya menyarankan semalam saja deh. Hasilnya lumayan sih meski saya sudah tidak sanggup gosok sisa kerak terakhir tapi bersih lhoo…!

lumayan kaaan?

Nah, buat ibuuu ibuu yang kesel sama kerak boleh dicoba ini. Saya ada rencana bersihkan lantai kamar mandi pakai citrun juga. Tinggal tunggu waktu yang tepat ya. Semoga bisa segera terlaksana.