Eman Sarjanamu Mbak…!!

Saya menghadapi kata-kata dari orang sekitar tentang kesarjanaan saya. Lucunya mereka yang berbicara semacam ini kebanyakan yaah yang taunya kalo dah berani sekolah tinggi tinggi ya kerja. Bukannya di rumah masak urus anak buka usaha sambilan selesai. Anggapan mereka posisi seperti ini perempuan begitu lemah. Tetapi mereka juga menjalaninya looh.

“Saya ketawa dalam hati plus bingung gimana menjelaskan ke mereka.”

Karena biasanya tipe orang susah menerima penjelasan kalo dah begitu. Bisanya nyinyir tanpa sadar mereka juga menjalani hal itu. Padahal perempuan mau sekolah bahkan mau berkarier setinggi apa tetap kembali ke urusan rumah tangga jika dia menikah ya. Masih ada perempuan yang enggan menikah sama seperti saya sebelum ketemu sama suami dulu gak ada niatan nikah. Mau dibilang jomblo seumur hidup sumpah I don’t care!! Kalau setelah ketemu suami iya memang pada akhirnya hati saya luluh juga mau menikah.

“Ketika perempuan sudah memutuskan untuk menikah disinilah dilemanya tetap bekerja atau mendukung suami sepenuhnya.”

Saya berani bilang kalau sudah memutuskan buat menikah ya jalani kehidupan rumah tangga. Sejauh apa kerjanya setinggi apa jabatannya kalau sudah sampai rumah kembali berperan sebagai ibu rumah tangga. Okelah capek ada pembantu tapi tugas dia kan asisten rumah tangga bukan pengganti ibu rumah tangga. Jadi hanya bantuin aja selebihnya kembali kepada si nyonya pemilik rumah dong. Hey jadi kalo ada suami kok malah lari sama pembantu bukan lakinya aja yang kegatelan atau pembantunya yang centil tapi karena ada yang memberikan kesempatan kepada mereka berdua. Siapa? Mirisnya itu istrinya sendiri. Kok bisa? Karena kesibukan luar biasa rumah embuh, masakan entah, anak-anak gak tau dah, apalagi urusan suami jadinya egp alias emang gue pikirin. Tidak ada cinta yang dihadirkan didalam rumah yang ada pergi cari duit pulang tidur. Rumah terasa hampa tak ada lagi kehangatan.

“Tak ada yang salah dengan perempuan bekerja diluar namun sadar diri. Perempuan yang dirumah juga bukan berarti lemah.”

Semua kembali kepada kondisi masing-masing. Mau kerja silahkan, mau dirumah silahkan. Buka usaha boleh, jadi ibu pejabat pun boleh. Tak ada yang melarang, hanya mulut nyinyir yang selalu bisanya mengkomentari kehidupan seseorang tanpa pernah berkaca pada diri sendiri. Perempuan bekerja selama sadar diri bahwa dia juga harus berperan sebagai seorang ibu pun tak masalah. Ia tak pernah menghindari tugas-tugas sebagai seorang istri. Perempuan di rumah juga tidak ada yang rugi. Bahkan kalau bisa mengatur waktu dia bisa memanfaatkan waktu untuk menambah penghasilan atau menambah wawasan dan pergaulan.

“Eman sarjanamu mbak…!!”

Dimana kata “eman” atau “sia-sia” sarjana saya dan perempuan lainnya? Justru selama kita menjalankan peran sebagai istri yang baik disanalah sarjananya masih dibutuhkan. Suami butuh pendukung bagi dirinya dan anak-anak. Suami sudah bekerja sampe tulangnya dibanting banting demi kita bisa ke emol dan anak-anak tetap bersekolah terus bagian penyedia makanan dikala dia kelaparan siapa? bagian kebersihan rumah siapa? bagian laundry siapa? bagian panti pijet siapa? mosok suami suruh lari ke panti pijet diluaran sana ntar kecantol sama yang mijetin kelar idup lu!!

Yuk bangkit!!
Tidak ada yang sia sia kita bersekolah tinggi malah lebih mendukung suami ya kan, jadi pas dibawa ke kantor dia gak malu2in masih ada bau bau sarjananya gitu loh.

Iklan

Isi Dalam Jok Kursi Tamu

Nah lho Mama Indri memang lagi sibuk-sibuknya setelah urus si anak gadis yang namanya Fath masuk asrama BLKI, masih harus promosikan Zain Carpenter Meubel belum termasuk urusin orderan mebel.

Jadilah saya baru bisa nulis lagi malem hari (posting entah kapan). Saya mau bahas lagi seputar dunia mebel yang secara umum karena kalau secara khusus itu rahasia perusahaan ya gaes. Kebetulan kami menerima keluhan dari seseorang tentang kursinya yang udah gak banget penampilannya. Sebenernya sudah berusaha ditutupi dengan tissue decoupage tapi yaah tahu sendiri kan itu kursi sering di dudukin. Jadi tissuenya bakalan ngelupas terus. Belum masalah kucing yang hobi banget nyakar2 jok kursi makin memperparah keadaan.

“Ganti jok kalau perlu tambahkan busa lagi.”

Ya ini solusinya dan buat melihat kondisi kursi lebih dalam perlu dibongkar dulu dong. Kalau saya sudah beberapa kali lihat kursi dan sofa dibongkar. Tapi baru kali ini saya lihat alangkah susahnya ngebongkar kursi tamu kali ini. Memakan waktu 3 hari gegara kerjaan tukang servis sebelumnya. Nah! kok bisa?

“Benci sama tukang yang ngaku bisa tapi ternyata gak bisa.”

Hasilnya ya gini nih. Bikin susah tukang servis selanjutnya sialnya yang kena apes suami saya. Akibat males mereka melepas staples tembak dari servisan sebelumnya lagi. Plus cara pasang joknya astaga ampuh bener. Tapi yaah namanya juga servisan harga murah kali ya jadinya hasilnya beuuh. Kain jok harga murmer udah gitu main sambung sama kain jok lainnya karena kurang bahan.

“Ada dakron di sumpel2 bikin saya sama suami geleng2 kepala.”

Ini saya berani bilang aneh2 aja deh yaa. Masa’ pasang jok kursi tamu disumpelin sesuatu. Kalo disumpelin duit sih iya saya mau. Nah dakron buat apa?

“Hal parah lainnya yang bikin geregetan tapi yah kasihan yang punya kursi namanya ditipu servisan macam begini.”

Setelah saya amati saya baru paham. Memang tidak semua tukang yang bekerja di perusahaan mebel maupun yang punya usaha mebel bisa memperbaiki jok kursi tamu. Apalagi kursi ini berjenis kayu jati yang kira2 umur kayunya sudah 30 tahunan. Memang iya sangat keras dan susah banget meski dipaku. Kalau memperbaiki sofa iya bahkan lebih banyak tukang jok sofa karena gak terlalu rumit modelnya dibandingkan dengan kursi tamu kayu.

Perlu hati-hati sebelum menserviskan kursi tamu apalagi yang berbahan kayu jati semacam ini. Jangan tertipu sama harga servisan murah meriah juga yaak. Karena servis kursi tamu lebih rumit tentunya harganya lebih mahal dibanding servis sofa. Padahal saat masih di Bengkulu untuk servis kursi tamu saja bisa di angka 4 jutaan (belum termasuk transport dll) memang beda dengan yang di pulau Jawa bisa jadi lebih murah bahan lebih mudah didapat tapi kalo semurah 500 ribuan patut dipertanyakan nih.

Kursi tamunya saat ini masih dalam tahap pengerjaan dan belum selesai. Mau servis atau pesan mebel lainnya? Bentuk yang unik sekalipun kami layani. Silahkan langsung hubungi no WA saya dan datang ke bengkel kami di

Zain Carpenter Meubel
Jl. Plamongansari V RT 01 RW 09 Kel. Plamongansari Kec. Pedurungan Kota Semarang
085709408221

Bonus foto2 saat bongkar kursi tamu berbahan jati ini

(Pas proses pembongkarannya ini rumit karena harus lepasin staples yang bertumpuk)

(Nah tuh sumpelan drakonnya buat apa coba kan udah ada busanya)

(Ini set kursi panjangnya yang bikin capek pas ngebongkarnya. Jok servisan sebelumnya bisa dilihat main sambung aja di bahan joknya. Mungkin lagi edisi hemat)

(Ini lebih mudah membongkarnya karena gak ada hal hal aneh didalamnya)

Bahan Tak Terduga Bisa Jadi Mebel

Ikut terjun ke usaha suami di dunia mebel jadi buat saya banyak tahu. Mulai dari proses sampai beberapa jenis kursi tamu. Ada yang namanya kursi rahwana, kursi raffi ahmad (konon katanya kursi model itu yang pesan pertama kali si raffi ahmad), kursi garuda dsb. Belum masalah lemari, meja makan, meja rias dsb. Semua punya nama dan punya modelnya masing-masing. Itu belum termasuk jenis kayu yang dipakai.

“Wah pusing saya kalau musti belajar lagi soal dunia mebel.”

Hanya tahu sepintas aja ah jangan dihapalkan. Biar suami aja sebagai tukang kayu yang hapal hehe. Dunia mebel itu apa aja bisa dibuat bahkan dari barang sisa termasuk dari potongan2 kayu, potongan triplek, bahkan serbuk kayu aja bisa jadi mebel baru. Bahan sisa itu kayu yang udah lapuk atau memang sisa bangunan. Jangankan itu, batok kelapa aja bisa jadi mangkok atau asbak dan bambu bisa jadi kursi malas. Teringat suami dulu pernah buat asbak dari batok kelapa (karena di Sumatera dulu banyak kelapa sementara di Semarang kan gak sebanyak itu).

“Kok semua bahan bisa dibuat mebel ya?”

Semua kembali kepada kreatifitas si tukang kayunya ya. Kalo bisanya berhenti di buat kitchen set aja dan dia nggak mau berkembang ya disitu melulu. Misal dia hanya berhenti bisa buat pintu dan kusen ya seumur hidup itu aja yang bisa dibuat. Tapi kalau mau mengembangkan kreatifitas semuanya bisa.

“Karena semuanya bisa, peminat mebel banyak, tapi maunya murah jadilah bahan2 yang dipakai pun murah2 termasuk yang dianggap sisa.”

Apa saja bahan murah itu? Serbuk kayu, serbuk triplek, triplek, kayu kualitas sekian dan kayu sisa-sisa bangunan. Bagi tukang kayu yang handal semua bahan itu bisa diolah jadi mebel mewah (eh bukan mepet sawah). Secara tampilan dan bisa menipu mata buat yang gak biasa beli mebel. Termasuk kursi servisan ini saya nggak pernah ngira karena sudah saya dudukin selama puluhan tahun. Ceritanya kursi ini punya papa saya dulu udah gak enak, minta diperbaikin sama Bang Zain suami saya. Begitu dibongkar….

“Bener kaki kursi dan sandaran dari kayu murah meriah tapi dudukannya?”

(Setelah di servis itu dikasih lem karena awalnya nggak ada lemnya cuma dipaku aja)

(Kertas kan….?)

Terbuat dari KERTAS!! Bagaimana mungkin yak??! Saya baru kali ini tahu loh kertas yang dipadatkan bisa didudukin. Pantes ya kertas nggak cuma berakhir jadi bungkus gorengan. Hanya saja tetap di jok dengan lapisan busa tipis dan covernya. Serius pas saya dulu tahu ini kursi tampak mewah. Lah ternyata….ini penampakannya saat dibongkar.
Bagian kaki kursi juga di cek kenapa nggak enak tiap didudukin padahal awalnya baik2 aja. Ternyata tiap sambungannya nggak di lem. Sementara suami saya kalau mau buat sambungan yang paten selalu di lem. Main paku atau sambungan biasa aja gak bakalan kuat. Memang boros di lem tapi selama ini yang servis di mebel kami nggak pernah mengeluh lagi soal daya tahannya.

“Nah kalau udah tahu itu ternyata bukan kayu gimana?”

Saat membeli kita cek si penjual bilang itu kayu itu bagus dan ternyata bukan kayu nggak usah marah2 ke penjualnya. Tawarlah kalau memang masih bisa ditawar dengan harga murah. Kalau dirasa memang sudah murah dan adanya duit kita segitu ya beli aja. Nggak perlu menuduh si penjual mau menipu mau ngakalin pembeli toh kita juga gak punya duit banyak kalau seandainya disodorkan dari bahan kayu utuh asli. Sebab dari kayu asli yang sekelas kursi betawi aja udah main di angka 2,5 juta dapatnya kursi 2 dan meja satu kecil. Apalagi buat set meja makan, kursi tamu, dan lemari? Harga 30 sampai 40 juta loh! Itu duit bukan daun hehe….

“Bersyukur bahwa ternyata tukang kayu kita kreatif…”

Terlepas kita dikadalin, ditipu, di nananina tentunya kita wajib bersyukur dong. Bahan seadanya bisa jadi mebel. Bagusnya kita gak boros pakai kayu karena pohon di hutan dimana saja nggak tumbuh dengan cepat. Ikut menjaga kelestarian alam dengan menggunakan kayu seadanya dan bahan lainnya termasuk bahan sisa. Setuju?

Kreasi Simpel dari Koran Bekas

Punya koran bertumpuk di rumah? Sama saya juga. Saya memang nggak langganan koran tapi kadang pas lagi bosen pegang hp saya beli koran. Ada koran harganya cuma 2000 rupiah di Semarang hehe. Soalnya koran yang lain udah diatas itu harganya. Belum kalau pas jemput anak2 saya juga suka iseng beli koran.

Harga 2000 apa nggak terlalu murah? Koran ini sebetulnya memang dijual sama anak2 yang yaah bisa dibilang dari keluarga gak punya lah ya. Daripada mereka ngemis atau ngamen lebih baik gini. Lagipula media online lebih mudah didapat, kalau koran sebagai media cetak dijual mahal yaah orang kurang tertarik.

Memang di agen koran dan majalah awalnya gak ada. Tapi karena harganya (yang dulu cuma 1000 rupiah loh) dan orang malah beralih ke koran ini, jadilah mulai banyak dijual dimana-mana. Makin eksis sampai sekarang. Nah pertanyaannya koran kan update setiap hari, koran lama gimana?

Nunggu tukang rosok datang jadi dikumpulin aja sampe 1 kg an….STOP! Ubah pola pikir nunggu tukang rosok. Kita manfaatkan jadi lebih berguna.

“Koran kan letoy paling jadi bungkus gorengan.”

Kata siapa? Koran bisa kita modifikasi jadi tempat penyimpanan yang kuat loh. Nggak percaya? Hayuuk siapin peralatan yang Mama Indri sebut ini ya….

-gunting dan cutter

-lem (karena butuh banyak jadi saya pakai tepung kanji yang dicairkan dan direbus sampai lengket)

-lidi, sumpit, tusuk sate (apa saja yang penting bisa buat melinting kertas koran, saya pakai tusuk sate)

-koran

Cara buatnya mudah :

1. Siapkan koran, potong biar jadi selembar dulu. Selembar koran ini kita potong pakai cutter jadi dua bagian, potong lagi jadi dua bagian lagi.

2. Linting koran biar mudah gunakan lidi. Kalau saya pakai tusuk sate.

3. Kalau sudah dapat banyak lintingan koran, potong bagian ujungnya ya biar rapi.

4. Buat alasnya dari karton yang dilapisi koran. Bisa juga dari lintingan tadi disusun membentuk persegi sebagai alasnya.

5. Lintingan koran tadi disusun diatas alasnya. Jangan lupa di lem ya. Mau model apa aja terserah tapi saya pakai model kotak sederhana aja.

Tunggu hingga lemnya kering.
Dah jadi deh bisa buat taruh apa aja. Bisa juga dicat dulu dan biar mengkilap kasih pernish setelah di cat ya. Cat kayu bisa, cat poster bisa, kalau cat air kayaknya kurang menutupi korannya. Sangat disarankan menggunakan lem tembak untuk hasil yang maksimal. Pakai lem kertas biasa memang nunggu keringnya lama dan daya tahannya gak sekuat lem tembak.

Bonus foto buatan saya ya….mohon maap itu miring2 asal yang buat gak ikutan miring juga eeh….

(Setengah jadi…)

(tampak dalam)

(dua foto ini nampak samping yaa)

No Pict Hoax (Ketika Kita Posting Tanpa Gambar)

Saya sengaja nggak pakai gambar di postingan kali ini. Selain sulit menemukan gambar yang tepat memang sengaja sih.

Tentang tulisan postingan apapun itu baik di medsos ataupun di blog. Saya sih sudah berapa kali menulis mulai dari tulisan alay sampai tulisan tentang opini, kritikan, tutorial dan pengalaman hidup. Ada yang pakai gambar ada yang nggak. Memang sebagai seorang blogger saya akui tulisan yang memuat gambar itu bakalan cepetan di klik daripada yang nggak. Kok bisa?

“Gambar itu penarik minat seseorang buat membaca sebuah tulisan”

Meski seringkali loh ya gambar nggak ada hubungannya sama tulisan. Disini yang bikin pembaca jadi terjebak. Tapi gak apa deh sekedar terjebak dengan gambar aja asal jangan terusan malah dipalakin duit juga hehe. Saya teringat pernah ikut satu grup dimana saat posting memang harusnya pakai gambar atau video (tapi sepertinya sekarang hanya sekedar diharapkan pakai gambar gak wajib pakai gambar sih). Sementara saya lebih mengutamakan kualitas tulisan daripada gambar. Plus saya kan seorang blogger jadi paham dong ngambil gambar di google image itu setidaknya menyebutkan sumbernya atau pakai situs yang membebaskan kita ambil gambarnya. Sayangnya pasti kena watermark dan buat dapet resolusi yang bagus kita musti jadi akun berbayar atau kita beli foto itu.

“Saya bukan orang sekaya itu buat beli gambar wong domain aja belum kebeli juga”

Bahkan ngambil gambar di google image sebetulnya sih dilarang. Cuma kalo pas saya lagi nakal dan kepepet saya comot terus sebutin sumbernya aja hahaha (plak!!). Disebutkan disana “gambar ini mungkin saja memiliki hak cipta” artinya kan sebuah peringatan bahwa jangan asal ambil. Nah terus mengatasinya gimana? Paling aman adalah memotret dengan kamera sendiri. Daripada dapet gambar bagus kita ambil terus kita posting dengan kamera sendiri kita ambil gambar dari sumbernya langsung setelahnya kita posting pasti beda. Misal di event jepang2an yang ada cosplaynya kita datang kita fotoin. Terasa beda dengan kita yang cuma buka google terus ambil foto tentang cosplay disana.

“Ada kepuasan tersendiri memotret dengan kamera hp sekalipun resolusi kameranya kecil.”

Yup! Betul sekali! Saya selalu bangga dengan hasil jepretan sendiri. Itulah sebabnya bisa dibilang jarang buat post atau kalaupun iya ya ambil di situs penyedia gambar seperti Shutterstock. Tapi jangan pernah sekali-kali cari gambar wajah terbaru saya di blognya Mama Indri. Kalo ini karena saya gak suka difoto. Saya lebih suka memotret objek lain ketimbang diri sendiri. Makanya kamera depan di hp buat saya cuma berfungsi sebagai cermin dadakan atau dipakai anak2. Tetap saya lebih mempertimbangkan kamera belakang yang kualitasnya bagus kalau pas mau beli hp.

“Kualitas tulisan itu no 1 dong. Gambar hanya pemanis saja.”

Hal apapun yang terkandung dalam tulisan mulai paragraf, jenis font (sampai saya gonta ganti belum menemukan yang cocok), dan informasi yang terkandung didalam tulisan itu yang saya utamakan. Meski ini tulisan berisi seputar kehidupan rumah tangga, saya yakin yang baca juga bukan kaleng2. Nah makanya saya nggak mau dong mengecewakan pembaca. Okelah blog2 saya yang dulu tulisan2 saya yang dulu isinya alay tapi kali ini saya mau serius dalam menulis.

Bikin Sabun Baru dari Sisa Sabun

Ibuk ibuuk saya kesel sebenernya banyak banget sabun bertebaran di tempat sabun kamar mandi saya. Urusan Mama Indri dong ya mustinya eeh jangan salah pastinya banyak yang punya keluhan kek gini.

“Sisa sabun kadang jatuh dan bikin mampet saluran pembuangan air. Bisa juga bertumpuk dan menimbulkan kesan jorok buat dilihat.”

Tapi kalau dibuang berasa gimana gitu kan masih bisa dipakai. Dih serba bingung ya. Apalagi rumah saya di Plamongansari ini begitu banyak sabun sisa. Gara-garanya dulu sering dipakai tukang bangunan buat cuci tangan pakai sabun terus dan saat ada sisa ditumpuk gitu aja. Akibatnya saat kami sampai kesini itu sisa sabun udah bikin penuh tempat sabun di kamar mandi. Tiap mau taruh sabun disana selalu jatuh.

Nah sayang bener kalau sisa sabun itu dibuang. Saya dapat ide gimana caranya buat merecycle sabun sisa itu menjadi sabun baru. Cuma gak tau caranya hehe jadinya buka Youtube deh. Banyak cara tapi saya pengen cara yang beneran bisa buat sabun kembali seperti baru. Akhirnya dapat juga dan saya praktekin deeh.

Sebelum mulai siapkan dulu :

– sabun sisa (saya ada banyak)
– pisau/cutter
– cetakan kue (atau wadah plastik lainnya boleh)
– air
– panci
– pewarna makanan dan esential oil atau pewangi yang aman buat kulit juga boleh (saya nggak pakai jadi ngikutin warna sabun yang ada)
– plastik
– ulekan atau batu juga boleh

Yok kita mulai cara buatnya :

1. potong sabun jadi tipis2 atau mau potong jadi kecil2 boleh ya. Setelah itu jemur kena sinar matahari. Kalau saya jemur di sinar matahari hanya sehari dan sisanya saya jemur dalam ruangan udah kering (sebab Semarang panas beudh jadi gak usah susah2 ya).

2. Pastikan kandungan air dalam sabun udah tinggal sedikit ya. Sabun yang tadi masukkan ke dalam plastik dan gepuk perlahan pakai ulekan boleh pakai batu boleh. Saya gak menyarankan pakai blender karena namanya sabun kelihatannya diluar sudah kering ternyata dalamnya masih ada yang basah. Bisa bikin blender penuh dengan sabun. Kalau saya gepuknya nggak sekaligus tapi dikit2 biar benar2 jadi serbuk. Itupun punya saya gak 100% jadi serbuk karena susah juga bo!

3. Taruh serbuk sabun dalam panci. Campur dengan esential oil atau pewarna. Saya gak pakai ya jadi langsung kasih air secukupnya dan rebus dengan api kecil aja.

4. Siapkan cetakan kue. Segera beri margarin atau minyak goreng diolesin dikit boleh. Fungsinya biar nggak lengket amat jadi bisa lepas dari cetakan. Ingat sambil diaduk adonan sabunnya ya. sekiranya sudah mulai hangat sabun juga sudah cair segera tuang ke cetakan. Saya pakai sendok sayur biar lebih mudahnya. Kalau ada buihnya biarkan aja nanti hilang sendiri. Tunggu sampai agak mengental.

5. Dengan didiamkan saja kena suhu ruangan sudah buat sabun cair tadi beku kok. Tapi kalau mau lebih mantap masukkan ke kulkas. Tunggu sampai besok. Kalau saya karena gak ada cetakan jadi pakai wadah plastik dan nggak saya masukkan frezer biar mudah dipotong.

6. Oke sabunnya sudah jadi bisa dibungkus pakai plastik warp ya. Bahkan bisa dijual. Pengen buat sabun dengan bahan alami bisa loh pakai cara ini. Bedanya bisa tambahkan bahan alaminya saat mau membuat adonan sabunnya. Termasuk mau buat sabun pepaya yang terkenal itu bisa loh. Jangan takut bau ya atau busuk karena kalau sudah tercampur sama bahan sabun hasilnya beda.

Ada kelebihan dan kekurangan dari sabun recycle ini yaitu :

(+)
-Hemat
-Bisa dikreasikan sesuka hati kita dengan bentuk yang lucu dan warna yang menarik
-Bisa dijual
-Mengatasi tumpukan sabun sisa tanpa harus dibuang

(-)
-Busanya nggak sebanyak sabun baru
-kalau kebanyakan air saat dicetakan buihnya masih ada dan bikin tampilan jelek
-wanginya gak sebaik sabun baru (karena saya gak kasih esential oil)

Oke itu deh cara Mama Indri menyingkirkan sisa sabun mandi dengan cara recycle yak. Dibawah ini bonus saat pembuatan sabunnya. Silahkan buat yang mau mencoba.

(Disisi atas itu sabun sekedar dipotong aja. Disisi bawah sabun yang sudah saya gepuk)

(Setelah direbus segera saya masukkan ke wadah plastik karena saya gak punya cetakan)

(wah sabunnya gede bangeet)

(Saya potong kecil2 biar bisa dipakai terus bungkus pakai aluminium foil. Bungkus pakai plastik biasa aja bisa kok)

Kopi Lampung Geratis

Ciee siapa yang mau kopi geratis hihihi….

Maaf ya khususon saya deh. Lah gitu amet ya Mama Indri ini cuma pamer doang. Yee…ini aja kiriman adik ipar saya loh dari Lampung Barat tepatnya Kecamatan Sumber Jaya.

Awal mulanya sih saya WA nan sama adik ipar soal kopi. Memang suami saya sudah banyak keluhan nananina soal kopi. Berapa jenis kopi sachet dicoba sama dia nggak ada yang mantep. Terakhir kopi yang ada kapalnya eh spoiler banget ya itu nggak cocok buat dia. Dih kemana lah saya mau cari kopi yak. Mosok sampe cafe tempat ngopi? Bisa sih tapi mahaaal. Sementara tiap hari kami berdua ngopi paling nggak 2x lah.

“Idak lemak kopi disini.” (nggak enak kopi disini)

Begitu deh keluhan suami. Dulu sih di Bengkulu kami terbiasa ngopi pakai kopi merk Kopi 1001. Maaf ya ngiklan jadinya hehe tapi asli kalau di Bengkulu yang terkenal ya kopi Bengkulu itulah. Kopi merk lain ada sih cuma jarang dibeli orang. Sebenernya saya niat beli kok ke adik ipar karena kan kopi yang dia dapatkan juga dipetik dan dimasak sama dia sendiri. Cuma dia nya nggak mau dibayar karena anggapannya dah saudara sendiri.

(Kopi 1001 tuh kayak gini looh jangan pernah cari kopi lain di Bengkulu yang terkenal yang ini)

“Saya sempat tertarik karena ada kopi yang unik sih buat saya. Meski buat mereka yang bekerja di kebun kopi dah biasa kali ya.”

Kopi itu sebenarnya adalah biji kopi yang bekas dimakan sama bajing. Bedakan dengan yang dimakan sama luwak ya kalau sama bajing tidak semua ditelan sebijinya. Bajing hanya makan daging buahnya dan bijinya dilempar ke tanah begitu saja. Nah kalau pas adik ipar kerja metik kopi dikebun orang dia memungut biji kopi bekas bajing ini. Tinggal dicuci bersih terus diolah sama dia. Bisa digoreng aja atau setelah digoreng ditumbuk biar kopinya siap minum. Jujur saya malah pengen kopi yang ini sayangnya karena adanya sedikit nggak jadi deh. Tapi saya surprize banget saat tiba-tiba adik ipar WA kirim kopi ke Semarang.

“Ayuk, ini aku kirim kopi.” (Mbak, ini aku kirim kopi)

Begitulah isi WA adik ipar yang sampai buat saya mondar mandir sana sini. Soalnya dia kan setahu saya gak punya FB dan gak tau alamat saya di Semarang. Kok tiba-tiba bisa kirim kopi bijimane nih?? Udah takut bener jangan sampe malah nyasar ke Bengkulu deh. Rupanya dia dapat alamat saya dari keponakan di Bengkulu yang ngikutin terus update an status di FB. Termasuk update an soal alamat rumah (karena saya kasih buat yang mau pesen makaroninya Mama Indri). Legaa juga karena akhirnya paketan kopi itu datang ke rumah saya di Plamongansari.

(Penampakan kopi aseli Lampung ya)

Belum sempat saya coba soalnya saya masih menghabiskan kopi yang biasanya ada di hotel2 bintang 4 atau bintang 5 yang disediakan di tiap kamarnya tuh. Tahu pastinya yang sering menginap di hotel hehe (ketahuan kalau sering gratisan nginep di hotel dulu). Soal rasa hm…kalau kopi asli gini kayaknya gak usah diragukan lagi. Mau? Bisa pesan ke saya dan bisa disesuaikan kok mau beli seberapa. Kalo seperti yang diatas sih harganya mehong yak bisa 80 ribuan (belum termasuk ongkir).

Buat yang asli Semarang mau nyobain kayak apa sih Kopi Lampung yang asli banget bisa ke rumah saya ya. Alamatnya di Jl. Plamongansari V RT 01 RW 09 Kel. Plamongansari Kec. Pedurungan.

Mau langsung pesen? Cuzz langsung WA di 085709408221. Pemesanan minimal 100 gram ya biar saya mudah packagingnya hehe. Mohon maaf kalau lama soalnya prosesnya masih manual semua heheu….